IFA.id -- PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mengalami penurunan kinerja keuangan yang signifikan akibat turunnya harga global nikel matte selama dua tahun berturut-turut.
Direktur Utama PT Vale Indonesia, Febriany Eddy, mengungkapkan bahwa harga nikel dunia menurun tajam, berdampak langsung pada pendapatan perusahaan.
Pada tahun 2023, harga rata-rata nikel mencapai sekitar US$23.000 per ton, namun turun menjadi US$17.000 per ton pada 2024, dan diperkirakan hanya sekitar US$15.000 per ton tahun ini.
Baca Juga: Menteri Maman: UMKM Bukan Hanya Usaha Mikro, tetapi Ekosistem Bisnis Luas dengan Potensi Besar
Penurunan harga ini berdampak signifikan pada laba bersih perusahaan, di mana setiap penurunan harga sebesar seribu ton dapat mengurangi laba bersih hingga US$70 juta.
Kinerja keuangan PT Vale Indonesia pada 2024 menunjukkan penurunan pendapatan sebesar 22,9%, dari US$1,23 miliar pada 2023 menjadi US$950 juta.
Laba bersih juga anjlok 78,9%, dari US$274 juta menjadi US$58 juta. Selain itu, EBITDA 2024 turun 54,8% menjadi US$226 juta dari sebelumnya US$477 juta pada 2023.
Meskipun harga nikel menurun, PT Vale Indonesia berhasil menurunkan unit cash cost of sales pada 2024 sebesar 6,6% menjadi US$9.374 per ton, dibandingkan US$10.034 per ton pada 2023.
Baca Juga: Harga Emas Antam Sentuh Rp1.714.000 per Gram, Terus Meningkat di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
Perusahaan fokus pada peningkatan produktivitas dan efisiensi untuk mengurangi dampak negatif dari penurunan harga nikel global.
Penurunan harga nikel global ini juga mempengaruhi produsen nikel lainnya. Indonesia, sebagai produsen nikel terbesar dunia, mempertimbangkan pengurangan produksi bijih nikel untuk menstabilkan harga, yang telah turun 40% dalam dua tahun terakhir akibat kelebihan pasokan.
Langkah ini diharapkan dapat menyeimbangkan kembali pasar nikel global dan mendukung produsen lokal.