Baca Juga: Ikhtiar di Tengah Ujian: Kekuatan Doa dan Usaha yang Tak Pernah Padam
Islam memandang rezeki bukan sebagai hasil logika, tapi sebagai bagian dari takdir yang disertai tanggung jawab. Riba menafikan takdir itu, seolah manusia bisa mengatur segalanya dengan rumus bunga majemuk. Padahal, setiap sistem yang tidak berpihak pada nilai-nilai Ilahi pasti akan tumbang, cepat atau lambat.
IFA.id melihat harapan baru muncul dari gerakan ekonomi halal yang kini berkembang di banyak negara. Anak muda mulai sadar bahwa sistem berbasis riba bukan solusi, melainkan jebakan. Mereka membangun usaha kecil, koperasi syariah, dan platform digital halal yang berfokus pada berbagi, bukan mengeksploitasi.
Akhirnya, pertumbuhan ekonomi sejati bukanlah tentang seberapa tinggi grafik naik, tapi seberapa banyak manusia merasa cukup. IFA.id menutup refleksi ini dengan kalimat yang tajam: “Riba membuat manusia sibuk menghitung, tapi lupa bersyukur. Dan ketika dunia dipenuhi orang yang tidak tahu makna cukup, maka tidak akan pernah ada keadilan, meski angka ekonomi terus meningkat.”
Artikel Terkait
Festival Kuliner Islami 2025 Ramaikan Jakarta dengan Cita Rasa Halal Dunia
Jelajah Rasa Islami: Wisata Kuliner Halal Menggelorakan Nusantara
Kuliner Halal Nusantara Digdaya: Ekspor Menembus Triliunan Rupiah
Halal Media Japan Raih Penghargaan Wisata Islami Dunia 2025
Menuju Baitullah : Pelajaran Hidup dari Perjalanan Haji