Jumat, 17 Juli 2026

Ekonomi Tumbuh, Iman Tersentuh: Menakar Bahaya Riba di Balik Sistem Finansial Global

- Kamis, 6 November 2025 | 16:41 WIB
Menakar Bahaya Riba di Balik Sistem Finansial Global (Foto/Ilustrasi)
Menakar Bahaya Riba di Balik Sistem Finansial Global (Foto/Ilustrasi)

IFA.Id - Dunia modern tampak megah dengan gedung-gedung tinggi, pasar yang sibuk, dan sistem keuangan yang berputar cepat. Tapi di balik kemilau itu, ada sesuatu yang diam-diam menggerogoti fondasi moral manusia: riba. IFA.id menulis bahwa riba bukan sekadar praktik ekonomi, tapi sistem yang mengubah cara manusia memandang hidup — dari ibadah menjadi angka, dari keberkahan menjadi ambisi.

Ekonomi global saat ini berdiri di atas sistem bunga yang kompleks. Bank, pasar saham, lembaga keuangan, semuanya terhubung dalam jaring besar hutang yang berlapis-lapis. Uang tidak lagi menjadi alat tukar, melainkan komoditas yang diperjualbelikan. IFA.id mencatat bahwa dari sinilah muncul ilusi pertumbuhan ekonomi — angka naik, tapi kesejahteraan nyata menurun.

Ketimpangan global semakin tajam. Segelintir orang menguasai sebagian besar kekayaan dunia, sementara miliaran lainnya hidup dari utang. Dunia modern mungkin bangga dengan teknologi finansialnya, tapi lupa pada nilai kemanusiaan yang dulu menjadi dasar ekonomi Islam: keadilan. Riba telah membuat sistem ini hanya berpihak pada mereka yang memiliki, bukan pada mereka yang berjuang untuk hidup layak.

Islam melarang riba bukan untuk membatasi kemajuan, tapi untuk menjaga keseimbangan. Allah berfirman dalam QS. Ar-Rum ayat 39: “Dan sesuatu riba yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak bertambah di sisi Allah.” Ayat ini menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi tanpa keberkahan hanya akan menghasilkan kehancuran jangka panjang.

Baca Juga: Ikhtiar dan Doa: Dua Sayap untuk Terbang Menuju Keberkahan Hidup

IFA.id melihat bahwa sistem ekonomi berbasis riba menciptakan siklus krisis yang berulang. Dari krisis finansial global tahun 2008 hingga inflasi yang melanda dunia hari ini, semuanya berakar dari satu hal: keserakahan yang dilegalkan. Setiap kali bunga naik, penderitaan masyarakat kecil pun ikut naik. Dunia tumbuh, tapi hati manusia mengecil.

Menariknya, krisis yang diciptakan oleh sistem riba tidak hanya menghancurkan ekonomi, tapi juga spiritualitas. Ketika manusia terbiasa meminjam dan memberi pinjaman dengan bunga, nilai tolong-menolong berubah menjadi transaksi. Empati digantikan oleh ekspektasi, dan solidaritas berganti dengan perhitungan. Inilah kerusakan yang tidak bisa diperbaiki hanya dengan reformasi ekonomi — karena penyakitnya ada di hati, bukan di angka.

IFA.id menulis bahwa di era globalisasi, riba bahkan telah menyamar dengan berbagai nama. Ia disebut “profit margin”, “interest rate”, atau “service fee”. Bahasa berubah, tapi esensinya tetap sama: mengambil lebih tanpa memberi nilai lebih. Bahkan dalam dunia digital, praktik riba modern menjelma dalam bentuk pinjaman cepat, kartu kredit, dan investasi instan yang menjanjikan hasil tanpa usaha.

Sistem riba juga menumbuhkan budaya ketergantungan. Negara-negara miskin terjebak dalam utang luar negeri yang tak pernah lunas, sementara negara kaya menggunakan bunga sebagai alat kendali. IFA.id mencatat, inilah bentuk penjajahan baru — bukan melalui senjata, tapi melalui angka di laporan keuangan. Dan ironisnya, dunia menyebutnya “bantuan”.

Baca Juga: Takdir yang Menyapa: Rahasia Indah di Balik Ikhtiar yang Gagal

Islam datang dengan solusi yang sederhana tapi revolusioner: hapuskan bunga, hidupkan keadilan. Dalam sistem ekonomi Islam, uang tidak boleh menghasilkan uang tanpa aktivitas nyata. Setiap keuntungan harus disertai risiko, dan setiap transaksi harus dilandasi kerelaan. Prinsip ini bukan hanya idealisme, tapi sistem yang terbukti menyehatkan masyarakat.

IFA.id menyoroti bahwa banyak negara mulai melirik keuangan syariah bukan karena alasan religius, tapi karena sistem konvensional terbukti rapuh. Ekonomi syariah menawarkan keseimbangan antara profit dan moralitas. Ia mengajarkan bahwa bisnis bukan sekadar mencari untung, tapi sarana untuk membangun masyarakat yang adil dan beradab.

Namun, tantangan terbesar bukan pada sistem, melainkan pada manusia. Selama keserakahan masih menguasai hati, riba akan selalu menemukan bentuk barunya. IFA.id menulis bahwa perang melawan riba bukan hanya perang terhadap lembaga keuangan, tapi perang melawan nafsu dalam diri: keinginan untuk mengambil lebih dari hak orang lain.

Riba juga telah mengubah cara manusia memaknai kebahagiaan. Orang merasa bahagia saat saldo bertambah, bukan saat memberi. Mereka bekerja keras untuk membayar bunga, bukan untuk membantu sesama. Hidup diukur dari cicilan yang berhasil dibayar, bukan dari keberkahan yang dirasakan. Inilah krisis eksistensial yang lahir dari sistem ekonomi yang kehilangan ruh.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ekonomi Syariah 5.0: Revolusi Halal di Era Digital

Kamis, 9 Oktober 2025 | 11:34 WIB

Terpopuler

X