Jumat, 17 Juli 2026

Dari Hutang ke Tenang: Transformasi Hidup Setelah Berhijrah dari Riba

- Kamis, 6 November 2025 | 16:33 WIB
Transformasi Hidup Setelah Berhijrah dari Riba (Foto/Ilustrasi)
Transformasi Hidup Setelah Berhijrah dari Riba (Foto/Ilustrasi)

IFA.Id - Bagi banyak orang, hidup tanpa riba terasa mustahil. Dunia modern sudah terlalu akrab dengan hutang, bunga, dan cicilan. Tapi di balik sistem yang tampak wajar itu, tersembunyi kegelisahan batin yang sulit dijelaskan. IFA.id menemukan kisah orang-orang yang berani melawan arus, meninggalkan sistem riba, dan menemukan ketenangan yang selama ini mereka cari.

Rizky, seorang karyawan swasta di Jakarta, dulu terjebak dalam kredit konsumtif. Mobilnya dibeli dengan cicilan, rumahnya pun demikian. Setiap bulan, penghasilannya habis hanya untuk membayar bunga. Hidupnya tampak mapan di luar, tapi di dalam hatinya selalu ada beban. Hingga suatu hari, ia mendengar ceramah tentang QS. Al-Baqarah ayat 279: “Jika kamu tidak meninggalkan sisa riba, maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.” Kalimat itu mengguncangnya. Bagaimana mungkin ia hidup dengan tenang jika setiap hari ia sedang diperangi oleh Tuhan?

Sejak hari itu, Rizky memutuskan untuk hijrah. Ia menjual mobilnya, melunasi hutang berbunga, dan mulai menata keuangan dari nol. Proses itu berat — banyak cibiran datang, banyak kenyamanan hilang. Tapi anehnya, batinnya terasa lebih ringan. IFA.id menulis, begitulah hukum keberkahan bekerja: ketika seseorang melepaskan sesuatu karena Allah, akan datang ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan apa pun.

Bukan hanya Rizky, tapi banyak kisah serupa terjadi di berbagai daerah. Seorang pedagang bernama Wawan di Bandung mengaku pernah terjerat pinjaman berbunga tinggi hingga hampir menutup tokonya. Tapi ketika ia mengganti sistemnya dengan jual beli syariah, pendapatannya justru meningkat. Ia berkata kepada IFA.id, “Dulu saya takut rugi, sekarang saya hanya takut melanggar.” Dari ketakutan yang salah, ia beralih menuju ketenangan yang sejati.

Baca Juga: Bekerja Tanpa Mengeluh: Jalan Sunyi Para Pekerja yang Menyebut Kantornya Sebagai Mihrab

Riba bukan hanya sistem ekonomi, tapi juga cermin mentalitas. Ia lahir dari ketamakan — keinginan untuk mendapatkan lebih tanpa berusaha lebih. Dan siapa pun yang hidup di bawah bayangannya, akan selalu merasa tidak cukup. IFA.id mencatat bahwa hijrah dari riba bukan hanya tentang mengubah cara bertransaksi, tapi juga tentang menyembuhkan cara berpikir.

Dalam Islam, konsep ekonomi selalu disandingkan dengan keadilan. Riba merusak keadilan itu karena hanya menguntungkan satu pihak dan menindas yang lain. Orang yang memberi pinjaman seolah di atas angin, sementara yang meminjam terus terhimpit. Karena itulah Allah dengan tegas menghapus praktik ini dari kehidupan umat Islam. Dan ketika seseorang meninggalkannya, ia bukan hanya menegakkan hukum Tuhan, tapi juga mengembalikan keseimbangan sosial.

IFA.id menulis, banyak orang yang berhijrah dari riba justru menemukan kedekatan spiritual yang tak pernah mereka rasakan sebelumnya. Mereka belajar sabar, belajar hidup dalam batas rezeki yang Allah tetapkan, dan merasakan manisnya tawakal. Di tengah tekanan ekonomi, mereka justru menemukan kedamaian karena tahu bahwa keberkahan lebih bernilai daripada kekayaan semu.

Proses berhijrah dari riba memang tidak mudah. Dunia sekitar sering memandangnya aneh, bahkan menyebutnya tidak realistis. Tapi bagi mereka yang pernah hidup dalam jeratan bunga dan hutang, kebebasan dari riba terasa seperti keluar dari penjara tak kasat mata. IFA.id mencatat, banyak pelaku usaha kecil yang justru tumbuh pesat setelah mengubah sistemnya menjadi berbasis syariah.

Baca Juga: Dari Kantor ke Masjid: Cerita Nyata Profesional yang Menemukan Makna Ibadah dalam Pekerjaan

Salah satu hal yang paling indah dari perjalanan ini adalah bagaimana Allah mengganti ketakutan dengan ketenangan. Orang yang dulu gelisah setiap kali tagihan datang, kini tersenyum setiap kali rezeki datang tak disangka. Mereka belajar bahwa rezeki bukan ditentukan oleh sistem manusia, tapi oleh kehendak Allah yang Maha Kaya.

Riba membuat manusia percaya bahwa uang bisa mengontrol hidup, tapi hijrah dari riba mengajarkan bahwa hanya Allah yang mengatur segalanya. Itulah sebabnya, mereka yang sudah berhenti dari riba sering berkata bahwa hidup mereka kini lebih sederhana, tapi jauh lebih bahagia. Tidak ada lagi tekanan cicilan, tidak ada lagi ketakutan hutang, hanya ada ketenangan batin yang tidak bisa diganti dengan nominal.

IFA.id menemukan bahwa gerakan bebas riba kini semakin meluas, terutama di kalangan anak muda. Mereka membangun komunitas, bisnis, dan koperasi yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Mereka percaya bahwa masa depan ekonomi umat harus bersih dari sistem yang menindas. Semangat ini menular, melahirkan budaya baru: ekonomi yang tidak hanya menguntungkan, tapi juga menenangkan.

Hidup tanpa riba bukan berarti hidup tanpa tantangan. Tapi di dalam setiap kesulitan itu, ada pelajaran tentang sabar, syukur, dan keikhlasan. Mereka yang dulu panik kehilangan harta, kini justru tenang karena tahu apa pun yang ditinggalkan demi Allah akan diganti dengan sesuatu yang lebih baik. Inilah janji Allah yang nyata, sebagaimana dalam QS. At-Talaq ayat 2–3: “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberi jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ekonomi Syariah 5.0: Revolusi Halal di Era Digital

Kamis, 9 Oktober 2025 | 11:34 WIB

Terpopuler

X