IFA.id -- Pada tahun 1953, di kota Gresik, Jawa Timur, berdirilah sebuah usaha tenun kecil bernama Pertenunan BHS.
Didirikan oleh Bapak Abdurra'uf Bahasuan, perusahaan ini memulai produksinya dengan menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) untuk menghasilkan sarung tenun bermerek BHS.
Seiring berjalannya waktu, permintaan pasar terhadap sarung BHS semakin meningkat.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, perusahaan memutuskan meningkatkan kapasitas produksinya dengan menambah pabrik dan beralih menggunakan Alat Tenun Mesin (ATM).
Baca Juga: Perjalanan Ny. Rakhmat Sulistio: Dari Jamu Rumahan hingga Lahirnya Sido Muncul
Langkah ini juga ditandai dengan peluncuran merek baru, yaitu Atlas, yang menyasar segmen menengah ke bawah, sementara BHS tetap fokus pada segmen menengah ke atas.
Kedua merek ini berhasil meraih tempat di hati masyarakat Indonesia. Sarung BHS dan Atlas tidak hanya dikenal karena kualitasnya yang premium, tetapi juga karena kemampuannya mencerminkan budaya dan tradisi Indonesia.
Di beberapa daerah, memiliki sarung BHS dianggap sebagai simbol prestise.
Baca Juga: Perjalanan SariWangi: Dari Inovasi Teh Celup oleh Johan Supit hingga Akuisisi oleh Unilever
Dalam menghadapi tantangan zaman, Behaestex terus berinovasi. Pada tahun 2020, perusahaan meluncurkan berbagai produk baru, termasuk sprei Atlas Premium, Sarung Atlas Super Premium, Sarung Batik, Kain Batik Jacquard, dan Baju Batik Jacquard.
Memasuki usia ke-68 pada awal 2021, Behaestex memperkenalkan varian terbaru dari Sarung BHS yang diberi nama BHS Cosmo, yang ditujukan untuk segmen entry level.
Tidak hanya fokus pada pasar domestik, Behaestex juga berhasil menembus pasar internasional.
Produk-produknya telah diekspor ke berbagai negara di Asia Tenggara, Afrika, Amerika, dan benua lainnya.
Artikel Terkait
Konflik Antar Pendukung Paslon di Puncak Jaya Sebabkan Korban Jiwa, TNI-Polri Tingkatkan Pengawasan
Wali Kota Pastikan Dapur Umum Berfungsi Optimal untuk Bantu Warga Terdampak Banjir
Transformasi Jatinangor House: Dari Kedai Kopi Rumahan Menjadi Restoran Ayam Goreng dengan 117 Cabang
Perjalanan SariWangi: Dari Inovasi Teh Celup oleh Johan Supit hingga Akuisisi oleh Unilever
Perjalanan Ny. Rakhmat Sulistio: Dari Jamu Rumahan hingga Lahirnya Sido Muncul