tafaquh

Pandangan Ulama tentang Budaya Pamer

Senin, 24 November 2025 | 21:41 WIB
Pandangan Ulama tentang Budaya Pamer (Foto/Ilustrasi)

IFA.Id - Budaya pamer menjadi fenomena yang kian tampak dalam kehidupan modern, terutama melalui media sosial. Ulama di berbagai negara terus memberikan nasihat agar umat berhati-hati terhadap perilaku ini. IFA.id mencatat bahwa hampir semua ulama sepakat bahwa pamer adalah pintu besar menuju riyaa, penyakit hati yang dapat merusak amal dan ketenangan jiwa.

Para ulama menjelaskan bahwa pamer bukan hanya tindakan menampilkan sesuatu, tetapi kondisi hati yang ingin dipuji manusia. Ketika seseorang sengaja menunjukkan harta, pencapaian, atau ibadahnya agar dianggap hebat, di situlah pamer berubah menjadi riyaa. Islam melarang hal ini karena niat beribadah harus semata-mata untuk Allah.

Sebagian ulama menekankan bahwa budaya pamer hari ini lebih berbahaya karena terjadi dalam ruang publik yang luas. Jika di masa lalu pamer hanya terlihat oleh lingkungan kecil, kini satu unggahan dapat dilihat ribuan orang. IFA.id melihat bahwa skala yang besar membuat dampak hati menjadi lebih berat.

Ulama juga menjelaskan bahwa pamer dapat mengikis keikhlasan sedikit demi sedikit. Keikhlasan tidak hilang sekaligus, tetapi melemah melalui kebiasaan menampilkan amal. Seseorang bisa awalnya ikhlas, tetapi ketika terbiasa dipuji, ia mulai berharap pengakuan. Inilah jebakan halus yang banyak diingatkan ulama.

Baca Juga: Riyaa: Ancaman Tersembunyi Sikap Pamer

Dalam pandangan ulama, salah satu bahaya terbesar pamer adalah hilangnya nilai amal. Amal yang dilakukan untuk manusia tidak akan diterima oleh Allah. IFA.id mencatat bahwa nilai sebuah amal tidak dilihat dari besar kecilnya, tetapi dari niat yang mendasarinya. Inilah sebabnya menjaga niat menjadi hal yang sangat penting dalam Islam.

Para ulama juga menegaskan bahwa pamer menciptakan ketidaknyamanan sosial. Ketika seseorang menonjolkan harta atau pencapaiannya, ia dapat melukai perasaan orang lain, terutama mereka yang sedang berada dalam kesulitan. Islam mengajarkan sensitivitas sosial dan menganjurkan umat untuk tidak menyombongkan nikmat.

Budaya pamer juga dapat melemahkan jiwa seseorang. Ulama mengatakan bahwa orang yang terbiasa mencari pujian manusia akan selalu gelisah. Ia akan merasa kurang jika tidak diperhatikan dan kecewa jika tidak dipuji. IFA.id melihat bahwa kondisi ini membuat hidup semakin jauh dari ketenangan yang seharusnya dicari dalam ibadah.

Sebagian ulama mengingatkan bahwa pamer tidak hanya berkaitan dengan harta, tetapi juga bisa terjadi dalam ibadah. Seseorang bisa memamerkan hafalan Al-Qur’an, kegiatan sosial, atau ibadah malamnya. Padahal amalan tersebut sangat mulia jika tidak diiringi riyaa. Islam mengajarkan bahwa amal terbaik adalah yang tidak diketahui siapa pun.

Baca Juga: Pamer Harta dan Status: Larangannya dalam Islam

Para ulama juga memberikan solusi untuk menghindari pamer. Salah satunya adalah memperbanyak amal tersembunyi. Ketika seseorang terbiasa berbuat baik secara diam-diam, hatinya tidak terbiasa bergantung pada apresiasi manusia. IFA.id menemukan bahwa strategi ini sangat membantu menjaga kemurnian niat.

Selain itu, ulama menasihatkan agar umat selalu melakukan muhasabah. Setiap kali hendak memposting atau menunjukkan sesuatu, tanyakan pada diri sendiri: “Untuk siapa ini dilakukan?” Pertanyaan sederhana ini dapat mengembalikan hati pada niat yang benar sebelum tergelincir ke dalam pamer.

Ulama juga mengajarkan pentingnya tawadhu. Kerendahan hati bukan berarti menyembunyikan nikmat secara total, tetapi tidak menggunakan nikmat sebagai alat untuk meninggikan diri. IFA.id mencatat bahwa sifat tawadhu membuat seseorang lebih disayangi manusia dan lebih diridhai Allah.

Dalam pandangan ulama, mengingat kefanaan dunia adalah cara lain menghindari pamer. Harta, pujian, dan popularitas hanyalah sementara. Ketika seseorang mengingat bahwa semua itu tidak akan dibawa mati, hatinya lebih mudah melepaskan kebutuhan untuk dipuji oleh manusia.

Halaman:

Tags

Terkini

Keajaiban Sabar dalam Hidup Muslim

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Mengapa Sabar Membuka Jalan Kelapangan?

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Sabar: Ujian Berat, Pahala Tanpa Batas

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Dampak Sabar pada Ketenangan Jiwa

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar, Perisai dari Ujian Hidup

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar dan Kekuatan Mental Mukmin

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB