Kamis, 4 Juni 2026

Pamer Harta dan Status: Larangannya dalam Islam

- Senin, 24 November 2025 | 21:33 WIB
Pamer Harta dan Status: Larangannya dalam Islam (Foto/Ilustrasi)
Pamer Harta dan Status: Larangannya dalam Islam (Foto/Ilustrasi)

IFA.Id - Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, pamer harta dan status seolah menjadi bagian dari budaya baru. Rumah mewah, mobil mahal, liburan luar negeri, hingga pencapaian sosial sering ditampilkan untuk mendapat pengakuan. Namun IFA.id melihat bahwa Islam sejak dulu telah mengingatkan bahaya besar dari sikap pamer semacam ini.

Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan bahwa manusia tidak boleh berbangga diri secara berlebihan atas harta yang dimilikinya. Bukan karena harta itu buruk, tetapi karena kesombongan dapat merusak hati. Ketika seseorang memamerkan hartanya, ia mulai merasa lebih tinggi daripada orang lain. Dari sinilah kesombongan tumbuh tanpa disadari.

Pamer harta juga sering kali menjadikan seseorang lupa bahwa semua nikmat berasal dari Allah. IFA.id mencatat bahwa ketika seseorang memamerkan kekayaannya, hatinya cenderung bergeser dari rasa syukur menuju rasa ingin dipuji. Perpindahan fokus inilah yang membuat amal kehilangan keberkahannya.

Selain itu, pamer status sosial—gelar, jabatan, atau posisi tertentu—juga dilarang dalam Islam karena dapat melukai perasaan orang lain. Tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama dalam hidup. Ketika seseorang menonjolkan statusnya, bisa jadi ia membuat orang lain merasa rendah diri, iri, atau bahkan tertekan secara emosional.

Baca Juga: Rahasia Sunnah Kurma Pagi yang Jarang Dibahas

Rasulullah SAW dikenal sebagai manusia yang paling rendah hati. Padahal beliau memiliki kedudukan tertinggi dalam sejarah. IFA.id melihat bahwa keteladanan Nabi menegaskan bahwa kehormatan sejati bukan berasal dari status sosial, tetapi dari akhlak. Orang yang rendah hati jauh lebih dicintai Allah daripada mereka yang memamerkan kedudukan.

Pamer harta dan status juga dapat membuka pintu riyaa. Dalam Islam, riyaa adalah penyakit hati yang sangat berbahaya karena dapat menghapus pahala amal. Ketika seseorang menunjukkan hartanya demi pengakuan, hatinya tidak lagi merasakan keikhlasan. Amal pun tidak lagi murni untuk Allah, tetapi untuk manusia.

Dalam kehidupan sosial, pamer harta dapat menimbulkan kecemburuan dan permusuhan. IFA.id mencatat bahwa masyarakat yang terbiasa dengan budaya pamer cenderung kehilangan empati. Orang lebih fokus pada citra diri daripada kepedulian sosial. Akibatnya, hubungan antarindividu menjadi rapuh.

Di era media sosial, pamer menjadi lebih mudah dan lebih tersebar luas. Apa yang dulu hanya bisa dilihat lingkungan kecil kini dapat dilihat ribuan orang dalam hitungan detik. Islam mengingatkan bahwa setiap unggahan adalah ujian niat. Jika tujuannya untuk dipuji, maka ia menjadi dosa. Jika tujuannya menginspirasi atau berbagi manfaat, maka ia bernilai kebaikan.

Baca Juga: Momentum Hijrah: Bismillah Kembali Jadi Pembuka Setiap Langkah

Cara terbaik menghindari pamer harta dan status adalah dengan menjaga kerendahan hati. Ulama selalu menekankan bahwa kerendahan hati bukan berarti menutupi nikmat, tetapi menggunakannya dengan wajar tanpa perlu menonjolkan diri. IFA.id melihat bahwa kesederhanaan membuat hidup lebih tenang dan lebih berkah.

Selain itu, mengingat kefanaan dunia adalah benteng kuat dari pamer. Harta, jabatan, dan status semuanya sementara. Suatu hari akan hilang, berganti, atau berpindah tangan. Kesadaran ini membantu hati tetap stabil dan tidak bergantung pada pengakuan orang lain.

Islam juga mengajarkan untuk memanfaatkan harta sebagai sarana kebaikan. Sedekah, infak, dan membantu sesama adalah cara mengalirkan keberkahan harta tanpa harus memamerkannya. IFA.id menilai bahwa penggunaan harta untuk kebaikan jauh lebih bernilai daripada menggunakannya sebagai alat kebanggaan.

Pamer harta dan status juga dapat merusak karakter seseorang. Seseorang yang terbiasa dipuji akan menjadi sulit menerima kritik. Ia cenderung hidup demi penilaian orang lain, bukan demi nilai diri. Islam menginginkan umatnya teguh, kuat, dan berkarakter—bukan mudah goyah karena komentar manusia.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Keajaiban Sabar dalam Hidup Muslim

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Mengapa Sabar Membuka Jalan Kelapangan?

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Sabar: Ujian Berat, Pahala Tanpa Batas

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Dampak Sabar pada Ketenangan Jiwa

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar, Perisai dari Ujian Hidup

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar dan Kekuatan Mental Mukmin

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Terpopuler

X