Baca Juga: Dari Reality Show ke Realitas Santri: Membedah Framing Pesantren di Trans7
Dalam wawancara khusus dengan IFA.id, pakar komunikasi Islam, Dr. Nur Hidayat, menegaskan:“Media seharusnya tidak hanya menayangkan pesantren sebagai objek, tetapi sebagai subjek peradaban Islam. Tayangan harus memberi ruang bagi nilai, bukan sekadar visual.”
Pernyataan itu menggugah. Trans7 dan media serupa sesungguhnya memiliki kekuatan luar biasa untuk mendidik publik bukan sekadar menghibur. Tayangan seperti Orang Pinggiran atau Mata Najwa pernah membuktikan bahwa media bisa menjadi ruang refleksi sosial.
Jika Trans7 mampu menampilkan pesantren dengan pendekatan jurnalisme beradab—tanpa sensasi, tanpa reduksi maka publik akan mengenal pesantren sebagai ruang intelektual dan spiritual bangsa, bukan hanya tempat “unik” di balik pagar tinggi.
Salah satu nilai pesantren yang kerap luput dari kamera adalah kemandirian.
Santri belajar mengurus hidupnya sendiri:
Baca Juga: Budaya Pesantren Disalahpahami: Di Mana Peran Media Islam?
mencuci, memasak, mengaji, belajar, dan bekerja dalam ritme teratur. Kiai mengajarkan keseimbangan antara ilmu dan amal, antara belajar dan berbuat.
Sayangnya, hal-hal sederhana itu jarang dianggap menarik di layar kaca.
Padahal di sanalah letak esensi pesantren mendidik manusia agar siap hidup tanpa bergantung pada dunia.
Maka, tugas media hari ini bukan sekadar memotret keunikan pesantren, tapi menghidupkan kembali martabatnya di mata masyarakat.
Trans7 dan media lain bisa mengambil langkah konkret dengan mengubah sudut pandang liputannya:
Baca Juga: Trans7, Santri, dan Kamera: Antara Hiburan dan Kesalahpahaman Publik
-
Dari menyorot “keunikan santri” menjadi menyuarakan nilai keteladanan santri.
-
Dari mencari “keanehan budaya” menjadi menjelaskan kedalaman tradisi.
-
Dari mengejar “visual eksotik” menjadi menyampaikan pesan moral.
Seperti halnya pesantren yang mengajarkan santri untuk ikhlas, media pun perlu berikhlas dalam berkarya—menyajikan kebenaran dengan hormat dan empati.