IFA.id - Beberapa tahun terakhir, televisi Indonesia, terutama Trans7, sering menayangkan kehidupan pesantren lewat format dokumenter dan reality show. Mulai dari program spiritual Ramadan, liputan khusus santri berprestasi, hingga kisah mistik yang berlatar pesantren.
Namun, IFA.id mencatat muncul fenomena baru: pesantren menjadi tontonan, bukan lagi tuntunan. Apa yang ditampilkan di layar seringkali jauh dari keseharian pesantren sebenarnya—penuh disiplin, adab, dan kedalaman ilmu.
Bayangkan suasana subuh di pondok kecil. Santri bergegas ke masjid, sebagian masih mengantuk, sebagian lagi sudah siap mengaji kitab kuning. Di tengah kekhusyukan itu, kamera televisi datang menyorot wajah-wajah muda yang kaget, canggung, lalu tersenyum ke arah lensa.
Bagi produser, itu momen menarik. Bagi santri, itu ujian baru: antara menjaga adab atau mengejar sorotan kamera. IFA.id mencatat, di sinilah mulai terjadi pergeseran: dari laku spiritual menjadi tontonan visual.
Baca Juga: Budaya Pesantren Disalahpahami: Di Mana Peran Media Islam?
Dalam teori komunikasi, framing berarti cara media membingkai realitas agar sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan. Di Trans7, framing pesantren sering dipenuhi unsur emosional dan dramatis ada humor, misteri, bahkan ketegangan.
Padahal, realitas pesantren lebih sunyi dari itu. Tak semua kisah santri menarik bagi kamera, tapi di situlah letak nilainya: kesabaran, ketaatan, dan ketekunan yang jarang viral.
Kiai H. Ahmad Sholeh dari Pesantren Al-Ishlah, Jawa Tengah, pernah berkata kepada IFA.id: “Santri itu hidup dalam diam, tapi dari diam itu lahir doa. Televisi sering mencari suara keras, padahal pesantren tumbuh dalam keheningan.”
Trans7 dikenal piawai mengemas realitas menjadi tayangan menghibur. Namun ketika pesantren dijadikan latar hiburan, muncul risiko besar: kesalahpahaman publik.
Baca Juga: Trans7, Santri, dan Kamera: Antara Hiburan dan Kesalahpahaman Publik
Masyarakat awam bisa mengira pesantren itu dunia lucu, aneh, atau penuh kejadian mistik. Padahal, pesantren adalah tempat manusia belajar menundukkan ego.
IFA.id mengingatkan: tugas media bukan hanya menayangkan, tapi menyampaikan makna.
Budaya pesantren tak bisa dipahami dari luar. Ia hidup dalam bahasa khas, tata krama, dan tradisi turun-temurun. Ketika kamera hanya menangkap bagian permukaan—santri bercanda, tidur di masjid, atau makan bersama maka publik hanya mengenal kulitnya.
Yang hilang dari tayangan semacam itu adalah jiwa pesantren: keikhlasan dalam belajar, hubungan batin dengan guru, dan adab terhadap ilmu.
Artikel Terkait
Dari Ngaji ke Adab: Bagaimana Larangan di Pesantren Mendidik Jiwa Tangguh
Misteri Larangan Tidur Pagi di Pesantren: Antara Disiplin dan Barokah
Hening yang Menyapa Langit: Saat Puasa Sunnah Menjadi Doa yang Tak Terucap