Baca Juga: Ketika Pesantren Jadi Konten: Trans7 dan Krisis Representasi Budaya Islam
Krisis pemahaman ini, menurut riset IFA.id, tampak dalam komentar publik di media sosial: banyak yang memandang pesantren sekadar gaya hidup sederhana, bukan sistem pendidikan spiritual. Media berperan besar dalam menciptakan persepsi itu.
Jurnalisme sejati mestinya menuntun pada kebenaran, bukan sekadar ketertarikan.
Dalam konteks pesantren, keindahan tidak hanya terletak pada visualnya, tapi juga pada nilai yang disampaikan.
Seorang produser Trans7 yang diwawancarai IFA.id bahkan mengakui, “Kami ingin menampilkan sisi menarik dari pesantren, tapi kadang harus menyesuaikan dengan kebutuhan rating.”
Pernyataan ini membuka mata: ada jarak antara realitas pesantren dan realitas televisi.
Santri hidup dengan ritme waktu yang lambat: bangun sebelum subuh, belajar siang malam, dan tidur selepas doa panjang.
Baca Juga: Senin-Kamis, Puasa Nabi: Amalan Ringan, Pahala Tak Terbatas
Sementara kamera menuntut kecepatan, kejelasan, dan adegan yang menarik.Pertemuan dua dunia ini menciptakan dilema: antara kejujuran spiritual dan keindahan sinematik.
Namun, beberapa pesantren kini mulai memahami cara berinteraksi dengan media. Mereka menyambut jurnalis dengan aturan ketat:
tak boleh masuk area putri, tak boleh mengganggu waktu ngaji, dan harus berpakaian sopan. Sebuah bentuk kedaulatan budaya di tengah arus publikasi.
KH. Muhyiddin, pengasuh pesantren di Lombok, pernah menuturkan kepada IFA.id: “Kami tidak anti media, tapi kami ingin agar pesantren tidak dijadikan bahan hiburan. Karena apa yang suci bisa jadi ringan kalau disorot tanpa adab.”
Baca Juga: Puasa Sunnah: Latihan Rahasia untuk Menjadi Versi Terbaik Diri Sendiri
Ungkapan itu menggambarkan hati para ulama yang masih menjaga kesakralan dunia ilmu.
Larangan sembarangan meliput bukan bentuk ketertutupan, melainkan cara menjaga makna agar tak tereduksi.
Doa Santri untuk Keikhlasan dan Keberkahan Media
اللَّهُمَّ اجْعَلْ أَعْمَالَنَا خَالِصَةً لِوَجْهِكَ، وَلَا تَجْعَلْ فِيهَا لِغَيْرِكَ شَيْئًا، وَبَارِكْ فِي مَا نَنْشُرُ وَنُقَدِّمُ مِنْ خَيْرٍ.
Allāhummaj‘al a‘mālanā khāliṣatan li-wajhika, wa lā taj‘al fīhā li-ghairika syai’an, wa bārik fī mā nansyuru wa nuqaddimu min khair.
Artikel Terkait
Dari Ngaji ke Adab: Bagaimana Larangan di Pesantren Mendidik Jiwa Tangguh
Misteri Larangan Tidur Pagi di Pesantren: Antara Disiplin dan Barokah
Hening yang Menyapa Langit: Saat Puasa Sunnah Menjadi Doa yang Tak Terucap