Artinya:
Ya Allah, jadikanlah seluruh amal kami tulus hanya untuk-Mu. Jangan biarkan ada niat selain-Mu, dan berkahilah setiap karya yang kami sebarkan dalam kebaikan.
Baca Juga: Menahan yang Tak Perlu: Cara Puasa Sunnah Menjernihkan Hati dan Pikiran
Doa ini sering dibaca di pesantren ketika santri diminta berdakwah lewat media, agar apa yang ditampilkan tetap membawa keberkahan, bukan sekadar popularitas.
Televisi bisa menampilkan pesantren dengan indah, tapi hanya hati yang beradab yang bisa memahaminya dengan benar. Kamera mampu merekam gerak, tapi tak mampu menangkap niat.
Karena itu, peran media bukan sekadar memperlihatkan dunia pesantren, tapi memuliakannya.
IFA.id mengajak media, produser, dan masyarakat untuk lebih peka. Jangan biarkan pesantren hanya dikenal lewat tayangan lucu atau mistis. Kenali ia sebagai benteng adab, tempat ilmu dijaga dengan doa, dan guru dihormati seperti orang tua.
Baca Juga: Larangan Santri Keluar Tanpa Izin: Bentuk Pengendalian Diri yang Mulia
Artikel Terkait
Dari Ngaji ke Adab: Bagaimana Larangan di Pesantren Mendidik Jiwa Tangguh
Misteri Larangan Tidur Pagi di Pesantren: Antara Disiplin dan Barokah
Hening yang Menyapa Langit: Saat Puasa Sunnah Menjadi Doa yang Tak Terucap