Kamis, 4 Juni 2026

Trans7 dan Tugas Baru Media: Mengembalikan Martabat Budaya Pesantren

- Sabtu, 18 Oktober 2025 | 15:18 WIB
Ketika layar televisi menjadi jendela kearifan — Trans7 dan pesantren berjalan beriringan, menghidupkan kembali martabat budaya, adab, dan ilmu di tengah arus zaman. (Foto/Ilustrasi)
Ketika layar televisi menjadi jendela kearifan — Trans7 dan pesantren berjalan beriringan, menghidupkan kembali martabat budaya, adab, dan ilmu di tengah arus zaman. (Foto/Ilustrasi)

IFA.id menemukan kisah menarik dari seorang jurnalis Trans7 bernama Dian (bukan nama asli). Saat pertama kali meliput pesantren, ia mengaku kaget dengan atmosfer yang sangat berbeda dari bayangannya.

Baca Juga: Ketika Pesantren Jadi Konten: Trans7 dan Krisis Representasi Budaya Islam

“Awalnya saya pikir pesantren itu tempat yang kolot,” ujarnya. “Tapi setelah seminggu tinggal di sana, saya menangis saat pamit. Saya baru paham: ternyata pesantren itu rumah jiwa.”

Pengalaman itu mengubah cara pandangnya sebagai jurnalis. Sejak saat itu, ia bertekad menulis dengan empati, bukan sekadar dengan kamera. Inilah yang disebut IFA.id sebagai jurnalisme beradab” media yang tak hanya melihat, tapi juga memahami.

Dalam Islam, setiap alat yang digunakan manusia bisa menjadi sumber pahala atau dosa—tergantung niatnya.

Begitu juga kamera dan pena jurnalis.
Jika digunakan untuk menyingkap kebenaran dengan hormat, maka ia menjadi ladang amal. Tapi jika hanya untuk mengeksploitasi, maka ia kehilangan keberkahan.

Baca Juga: Senin-Kamis, Puasa Nabi: Amalan Ringan, Pahala Tak Terbatas

Kiai di Pesantren Lirboyo pernah berpesan kepada santri yang bekerja di media: “Gunakan lensa untuk menyingkap cahaya, bukan mencari kegelapan.”

Pesan ini menjadi pengingat bahwa media, pada dasarnya, adalah dakwah.
Dan dakwah sejati bukan hanya dengan kata, tapi dengan cara menampilkan kebenaran secara indah dan adil.

Doa untuk Jurnalis dan Media yang Amanah

اللَّهُمَّ اجْعَلْ أَقْلَامَنَا شُعَاعًا لِلنُّورِ، وَأَلْسِنَتَنَا دَاعِيَةً لِلْخَيْرِ، وَقُلُوبَنَا طَاهِرَةً مِنَ الرِّيَاءِ وَالزَّيْفِ.

Allāhummaj‘al aqlāmanā syu‘ā‘an lin-nūr, wa alsinatanā dā‘iyatan lil-khair, wa qulūbanā ṭāhiratan minar-riyā’ waz-zaif.

Artinya:
Ya Allah, jadikan pena kami cahaya penerang, lisan kami penyeru kebaikan, dan hati kami bersih dari riya dan kepalsuan.

Baca Juga: Puasa Sunnah: Latihan Rahasia untuk Menjadi Versi Terbaik Diri Sendiri

Doa ini sering dibacakan dalam komunitas dakwah media Islam untuk memohon agar setiap karya membawa keberkahan, bukan sekadar popularitas.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Keajaiban Sabar dalam Hidup Muslim

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Mengapa Sabar Membuka Jalan Kelapangan?

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Sabar: Ujian Berat, Pahala Tanpa Batas

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Dampak Sabar pada Ketenangan Jiwa

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar, Perisai dari Ujian Hidup

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar dan Kekuatan Mental Mukmin

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Terpopuler

X