Baca Juga: Idul Adha dan Gotong Royong: Spirit Kebersamaan Umat
Dalam tradisi Islam, banyak ulama yang mencontohkan hal ini. Imam Malik bin Anas, misalnya, dikenal begitu hormat kepada ibunya. Setiap kali hendak mengajar, beliau tidak keluar rumah sebelum meminta restu ibunya. Ibu Imam Malik bahkan menyisir rambut anaknya dan memakaikan serban terbaik sambil berdoa: “Pergilah, ajarkan ilmu dengan adab sebelum bicara.”
Di sisi lain Indonesia, tepatnya di pesisir Sulawesi, IFA.id menemukan kisah serupa dari seorang pemuda bernama Hafidz, nelayan muda yang menolak pindah kerja ke kota demi merawat ayahnya yang lumpuh.
Setiap pagi sebelum berangkat melaut, Hafidz menyuapi ayahnya sarapan, lalu memijat kaki yang tak lagi kuat menapak. “Saya tahu, setiap pijatan itu bukan hanya rasa sayang, tapi juga bentuk syukur,” ujarnya.
Ternyata, ketulusan itu membuahkan keajaiban. Suatu hari, kapal Hafidz yang biasanya hanya membawa pulang ikan seadanya, penuh dengan tangkapan besar. “Mungkin ini rezeki dari doa ayah,” katanya sambil tersenyum.
Baca Juga: Masjid Besar Gelar Salat Id Akbar, Jamaah Membludak
IFA.id mencatat kisah ini sebagai contoh nyata bahwa keberkahan tidak datang dari kecerdikan semata, melainkan dari ridha orang tua yang menjadi jembatan rahmat Allah.
Zaman berubah, nilai bakti diuji. Banyak yang kini merasa sibuk bekerja, sibuk mengejar target, hingga lupa bahwa ada suara tua yang menunggu sapaan.
IFA.id mencatat, fenomena anak meninggalkan orang tua di panti jompo makin meningkat. Padahal, dalam Islam, memuliakan orang tua di usia senja adalah amal mulia yang mendekatkan seseorang pada surga.
Rasulullah SAW bersabda:
“Celaka, celaka, celaka seseorang yang mendapati kedua orang tuanya dalam keadaan tua, salah satu atau keduanya, namun dia tidak masuk surga.”
(HR. Muslim)
Hadis ini menjadi peringatan keras. Bahwa keberadaan orang tua di masa tua bukan beban, melainkan kesempatan emas menuju surga.
IFA.id juga pernah mewawancarai seorang pekerja kantoran di Jakarta bernama Rizky, yang menangis saat bercerita tentang penyesalannya.
Selama bertahun-tahun ia jarang pulang, terlalu sibuk dengan urusan dunia. Ketika akhirnya ia punya waktu, ibunya sudah tiada.
Baca Juga: Kisah Haru Distribusi Daging Kurban di Pelosok Negeri
“Uang bisa dicari, tapi waktu bersama ibu tidak bisa diulang,” katanya dengan suara bergetar.
Kisah Rizky menjadi pengingat bagi banyak orang bahwa berbakti bukan menunggu kesempatan, melainkan menciptakannya. Karena doa orang tua hanya bisa didengar saat mereka masih bisa menyebut nama kita dengan senyum, bukan dari batu nisan yang diam.