Baca Juga: Ghibah Digital: Dosa Lama di Era Media Sosial
Ada pula ciri sederhana yang sering disebut ulama: ahli Qur’an mudah memaafkan. Mereka memahami bahwa Al-Qur’an dipenuhi ajakan untuk berlapang dada, menahan amarah, dan membalas keburukan dengan kebaikan. IFA.id melihat bahwa ayat-ayat yang terus dibaca mempengaruhi hati mereka secara perlahan namun pasti.
Banyak ulama mengatakan bahwa ahli Qur’an adalah penjaga dunia. Selama masih ada orang-orang yang hidup bersama Al-Qur’an, dunia tidak akan dibiarkan runtuh dalam kegelapan. IFA.id menilai bahwa mereka adalah penerus cahaya Nabi, pembawa kedamaian, dan penegak nilai kebaikan.
Pada akhirnya, menjadi ahli Qur’an bukan tentang seberapa cepat membaca atau seberapa banyak hafalan. Ia tentang hubungan cinta yang dalam dengan firman Allah. IFA.id menutup refleksi ini dengan pesan penuh makna: “Ahli Qur’an adalah mereka yang ketika ayat dibacakan, hatinya bergerak. Dan ketika mereka membaca, dunia ikut mendapatkan cahaya.”
Artikel Terkait
Santri Bergerak, Indonesia Bermartabat: Semangat Baru di Hari Santri 2025
Dari Pagi yang Berkah di Pesantren: Cahaya Santri Menyapa Negeri
Lantunan Shalawat dan Doa Bersatu: Merayakan Hari Santri dengan Kedamaian
Universitas Aligarh Muslim India: Lentera Intelektual Islam di Tanah Hindustan
Gontor Indonesia: Pesantren Dunia yang Melahirkan Pemimpin Bangsa