Kamis, 4 Juni 2026

Antara Suara Nurani dan Nafsu Amarah: Menakar Batas Demo Menurut Islam

- Senin, 20 Oktober 2025 | 14:39 WIB
Santri bukan sekadar penyuara keadilan, tapi penjaga adab dalam perjuangan. Karena suara nurani harus lahir dari hati yang bersih, bukan dari amarah yang membakar. (Foto/Ilustrasi)
Santri bukan sekadar penyuara keadilan, tapi penjaga adab dalam perjuangan. Karena suara nurani harus lahir dari hati yang bersih, bukan dari amarah yang membakar. (Foto/Ilustrasi)

Islam menekankan adab sebelum tindakan. Jika aksi sosial dilakukan, maka adab dan niat harus menjadi fondasi.

Baca Juga: Santri Turun ke Jalan: Antara Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Batas Adab Islami

Berikut nilai-nilai Islam yang menjadi panduan bagi santri ketika menyuarakan aspirasi:

  1. Ikhlas dan Amanah – Bergerak karena Allah, bukan karena kepentingan politik atau popularitas.

  2. Damai dan Tidak Merusak – Tidak ada justifikasi dalam Islam untuk menghancurkan fasilitas publik atau menebar kebencian.

  3. Ta’at kepada Ulil Amri – Selama penguasa tidak memerintahkan kemaksiatan, maka ketaatan adalah bagian dari stabilitas umat.

  4. Musyawarah dan Ilmu – Segala aksi harus diputuskan dengan bimbingan kiai dan ulama, agar tidak keluar dari koridor syar’i.

Dengan demikian, demonstrasi yang dilakukan secara damai dan beradab bisa menjadi sarana tafaquh belajar tentang realitas sosial dengan hati yang jernih dan pikiran yang tajam.

Baca Juga: Santri Bergerak, Indonesia Bermartabat: Semangat Baru di Hari Santri 2025

Santri adalah warisan panjang peradaban yang memadukan ilmu dan adab. Mereka tidak menolak perubahan, tapi juga tidak terombang-ambing arus dunia.

Ketika santri berdemo, sejatinya mereka membawa misi dakwah bukan sekadar politik, tetapi menegakkan nilai-nilai kemanusiaan yang berpijak pada tauhid.

Pesantren mengajarkan keseimbangan: “Ngaji iku ora mung maca kitab, nanging uga maca keadaan.” Artinya, santri dituntut untuk memahami dunia, tapi tidak larut dalam dunia itu sendiri.

Mereka adalah pelaku tafaqquh pendalaman terhadap hikmah sosial, bukan sekadar aktivis jalanan. Karena itu, gerakan santri seharusnya mencerminkan ilmu, hikmah, dan kasih sayang, bukan provokasi atau kemarahan.

Baca Juga: Dari Pagi yang Berkah di Pesantren: Cahaya Santri Menyapa Negeri

Rasulullah ﷺ sendiri pernah menghadapi ketidakadilan, penindasan, bahkan kekerasan. Tapi beliau tidak membalas dengan emosi. Sebaliknya, beliau menjawab dengan doa dan dakwah yang lembut. “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Keajaiban Sabar dalam Hidup Muslim

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Mengapa Sabar Membuka Jalan Kelapangan?

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Sabar: Ujian Berat, Pahala Tanpa Batas

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Dampak Sabar pada Ketenangan Jiwa

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar, Perisai dari Ujian Hidup

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar dan Kekuatan Mental Mukmin

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Terpopuler

X