“Kok yang ditayangkan cuma bagian lucunya, ya? Padahal kami juga ngaji tiap malam.”
Kalimat sederhana itu menggambarkan kerinduan: ingin dipahami apa adanya.
Bukan dimitoskan, bukan dikomersialisasi.
Baca Juga: Hening yang Menyapa Langit: Saat Puasa Sunnah Menjadi Doa yang Tak Terucap
Doa Santri untuk Media yang Bijak
اللَّهُمَّ أَلْهِمْنَا رُشْدَنَا، وَأَعِذْنَا مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَاجْعَلْ أَقْلَامَنَا وَصُوَرَنَا سَبَبًا لِلْخَيْرِ وَالْهُدَى.
Allāhumma alhimnā rushdanā, wa a‘idznā min syurūri anfusinā, waj‘al aqlāmanā wa shuwarānā sababan lil khairi wal hudā.
Artinya:
Ya Allah, ilhamkan kepada kami petunjuk-Mu, lindungilah kami dari keburukan diri kami, dan jadikan pena serta gambar kami sebagai jalan kebaikan dan petunjuk bagi manusia.
Doa ini sering dibaca oleh santri yang terlibat di dunia media, agar setiap karya membawa keberkahan, bukan kesalahpahaman.
Kamera memang bisa merekam gambar, tapi hanya hati yang mampu merekam makna.
Krisis pemahaman budaya pesantren bukan hanya karena media salah menampilkan, tapi juga karena kita jarang berhenti sejenak untuk memahami.
Trans7 dan media lain memiliki peran penting: bukan hanya sebagai penyampai berita, tapi juga sebagai penjaga narasi budaya bangsa. Karena setiap tayangan adalah cermin dan dari cermin itu, generasi muda akan belajar tentang siapa dirinya.
Baca Juga: Misteri Larangan Tidur Pagi di Pesantren: Antara Disiplin dan Barokah
Artikel Terkait
Kenapa Santri Tak Boleh Bawa HP? IFA.id Mengungkap Fakta Menarik di Baliknya
Larangan Pacaran di Pesantren: Bukan Soal Cinta, Tapi Soal Martabat
Dari Ngaji ke Adab: Bagaimana Larangan di Pesantren Mendidik Jiwa Tangguh