Kamis, 4 Juni 2026

Trans7, Santri, dan Kamera: Antara Hiburan dan Kesalahpahaman Publik

- Sabtu, 18 Oktober 2025 | 12:43 WIB
Ketika kamera menyorot pesantren, semoga yang terlihat bukan sekadar tawa, tapi juga cahaya ilmu dan adab yang menuntun bangsa. (Foto/Ilustrasi)
Ketika kamera menyorot pesantren, semoga yang terlihat bukan sekadar tawa, tapi juga cahaya ilmu dan adab yang menuntun bangsa. (Foto/Ilustrasi)

Produser meminta, “Coba yang lucu, yang khas pesantren!” Santri mencoba, tertawa, bahkan berakting sedikit. Setelah tayangan naik, komentar publik bermunculan: “Wah, pesantren seru juga ya!”

Baca Juga: Puasa Sunnah: Latihan Rahasia untuk Menjadi Versi Terbaik Diri Sendiri

Tapi sebagian alumni merasa sedih. Bukan karena pesantren tampil di TV, tapi karena yang tampil hanyalah kulitnya. Tidak ada penggambaran serius tentang perjuangan belajar kitab di malam hari, adab di hadapan kiai, atau spiritualitas yang menjadi napas kehidupan santri.

IFA.id menilai, dilema ini berada di antara dua dunia: hiburan dan edukasi. Media seperti Trans7 tentu berorientasi pada rating—tayangan harus menarik, lucu, dan mudah dicerna. Tapi di sisi lain, publik butuh pencerahan tentang pesantren sebagai institusi peradaban Islam Nusantara.

Mengangkat pesantren bukanlah kesalahan.
Yang jadi persoalan adalah ketika pesantren disederhanakan menjadi tontonan tanpa pengetahuan.

Pesantren memiliki khazanah budaya yang dalam: tradisi kitab kuning, syair-syair sufistik, adab sebelum ilmu, dan semangat gotong royong. Semua itu layak diangkat, bukan hanya sisi eksotiknya.

Baca Juga: Menahan yang Tak Perlu: Cara Puasa Sunnah Menjernihkan Hati dan Pikiran

Santri adalah wajah Islam Nusantara yang damai dan toleran.
Mereka belajar bahwa adab lebih tinggi dari ilmu, bahwa perbedaan adalah rahmat, dan bahwa ilmu harus diamalkan.

Sayangnya, nilai-nilai ini jarang masuk ke televisi. Yang muncul justru santri yang lucu, nyentrik, atau bahkan terkesan “tidak modern”.

Padahal, di balik sarung dan peci sederhana, banyak santri yang menjadi penulis, aktivis sosial, bahkan ilmuwan. Inilah potret yang perlu diangkat ulang oleh media agar masyarakat tidak salah memahami.

Sudah saatnya media menampilkan pesantren bukan hanya sebagai “konten menarik”, tapi sebagai “sumber nilai”. Trans7 dan media sejenis punya potensi besar untuk membangun jembatan pemahaman publik terhadap Islam yang ramah dan berbudaya.

Baca Juga: Larangan Santri Keluar Tanpa Izin: Bentuk Pengendalian Diri yang Mulia

Bayangkan jika Trans7 membuat program yang menggali kehidupan santri dari sisi perjuangan, pengabdian, dan spiritualitas. Bukan sekadar “santri lucu” yang dikomentari ringan, tapi kisah reflektif yang membuat penonton memahami makna sabar, ikhlas, dan tawadhu’.

Itulah jurnalisme yang tak hanya menghibur, tapi juga mencerahkan.

Suatu malam, di sebuah asrama pesantren di Magelang, para santri menonton tayangan televisi yang melibatkan pesantren mereka. Mereka tertawa melihat diri sendiri di layar. Tapi di antara tawa itu, seorang santri berbisik,

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Keajaiban Sabar dalam Hidup Muslim

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Mengapa Sabar Membuka Jalan Kelapangan?

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Sabar: Ujian Berat, Pahala Tanpa Batas

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Dampak Sabar pada Ketenangan Jiwa

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar, Perisai dari Ujian Hidup

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar dan Kekuatan Mental Mukmin

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Terpopuler

X