“Sebenarnya yang kami ingin ajarkan bukan hanya teknis film, tapi bagaimana menyampaikan pesan moral lewat medium yang mereka cintai,” kata Ustaz Farhan, pembimbing kegiatan tersebut. “Kalau dulu dakwah pakai mimbar, sekarang mimbar kita adalah kamera dan mikrofon.”
Pesantren Kilat Zaman Digital
Fenomena pesantren kilat kreatif juga muncul di beberapa kota besar seperti Bandung, Yogyakarta, dan Makassar.
Konsepnya variatif: ada yang membuat podcast dakwah ringan dengan format talkshow santai, ada pula yang membuat drama audio berdurasi 10 menit berisi kisah inspiratif santri.
Baca Juga: Kebaikan di Tengah Dunia yang Sibuk
Kegiatan ini biasanya melibatkan mentor dari kalangan jurnalis, sineas muda, hingga podcaster profesional. Tujuannya sederhana: membentuk santri yang mampu berdakwah dengan bahasa generasinya.
Menurut data internal Forum Santri Digital Indonesia, sekitar 42% peserta pesantren kilat urban di tahun 2024 menyatakan ingin melanjutkan karya dakwah kreatif mereka di luar bulan Ramadan. Ini menandakan minat besar terhadap pendekatan yang menggabungkan iman dan imajinasi.
Belajar Nilai Lewat Cerita
Mengapa pendekatan kreatif ini begitu efektif? Karena cerita selalu punya kekuatan universal.
IFA.id mencatat bahwa pesan moral sering kali lebih membekas ketika disampaikan lewat kisah. Drama, film, dan podcast menawarkan ruang untuk refleksi yang tak menggurui.
Seorang remaja mungkin enggan mendengarkan ceramah satu jam, tapi akan antusias menonton film pendek tentang sahabat Nabi atau kisah tobat anak muda.
Baca Juga: Pesantren Kilat dan Revolusi Karakter: Dari Gadget ke Gairah Iman
Metode ini juga membantu santri memahami nilai-nilai agama secara kontekstual. Saat menulis skenario, mereka belajar tentang konflik batin, kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian moral. Proses kreatif itu sendiri menjadi sarana tafakur.
Kreativitas sebagai Amal Jariyah
Yang menarik, banyak pesantren kini mulai memandang karya digital sebagai bagian dari amal jariyah.