IFA.id --Overthinking atau terlalu banyak berpikir merupakan kondisi yang kerap dialami oleh banyak orang.
Pikiran yang terus-menerus berputar tanpa henti, kekhawatiran terhadap hal-hal yang belum tentu terjadi, serta ketakutan akan masa depan adalah gejala umum dari overthinking.
Jika dibiarkan, kondisi ini bisa mengganggu kesehatan mental dan kualitas hidup. Namun, Islam memberikan solusi yang menenangkan tawakal kepada Allah.
Baca Juga: .Dzikir sebagai Terapi Jiwa: Menemukan Ketenangan Hati
Apa Itu Overthinking?
Overthinking adalah proses berpikir secara berlebihan terhadap suatu masalah hingga menimbulkan stres dan kecemasan.
Seseorang yang overthinking sering kali sulit tidur, mudah merasa lelah, dan cenderung kehilangan fokus.
Mereka terjebak dalam lingkaran pertanyaan "bagaimana jika", dan merasa harus mengendalikan segala hal. Padahal, tidak semua hal bisa dikendalikan manusia.
Baca Juga: Sholat dan Manfaatnya dalam Menjaga Kesehatan Mental
Islam dan Ketenangan Jiwa
Dalam Islam, ketenangan jiwa sangat ditekankan. Salah satu kunci utama mencapai ketenangan tersebut adalah dengan bertawakal, yakni menyerahkan segala urusan kepada Allah setelah melakukan ikhtiar atau usaha maksimal.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Imran ayat 159:
"…Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal."
Ayat ini menunjukkan bahwa setelah kita berusaha, selebihnya serahkanlah hasilnya kepada Allah. Keyakinan bahwa Allah mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya adalah obat mujarab bagi jiwa yang gelisah.
Baca Juga: Puasa dan Manfaatnya untuk Kesehatan Mental
Cara Menghilangkan Overthinking dengan Tawakal
1. Perkuat Hubungan dengan Allah
Sering-seringlah berdoa, membaca Al-Qur’an, dan melaksanakan ibadah secara khusyuk. Ini membantu hati merasa tenang dan damai. Ingatlah bahwa Allah adalah sebaik-baik pelindung dan penolong.
2. Fokus pada Usaha, Bukan Hasil
Salah satu penyebab utama overthinking adalah kekhawatiran terhadap hasil. Dalam Islam, kita diajarkan untuk berikhtiar semaksimal mungkin,