Keterasingan atau merasa terpisah dari masyarakat atau komunitas juga bisa menjadi tanda ketidakbahagiaan. Seseorang tidak memiliki hubungan baik dengan sesama, atau merasa terisolasi, cenderung merasa tidak bahagia.
Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah bersaudara." (QS. Al-Hujurat: 10)
Islam sangat menganjurkan untuk membangun silaturahim dan berbagi kebahagiaan dengan sesama. Orang merasa terasing atau tidak memiliki hubungan baik dengan orang lain cenderung merasa kosong dan tidak bahagia.
8. Selalu Mengeluh dan Tidak Bisa Menerima Takdir
Orang selalu mengeluh atau merasa tidak puas dengan takdir Allah, serta tidak bisa menerima ujian hidup, menunjukkan bahwa ia tidak memiliki kerelaan dalam menerima takdir. Ini bisa menjadi tanda ketidakbahagiaan dalam hidup.
Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya paling mulia di antara kalian adalah paling bersyukur dengan takdir Allah." (HR. Bukhari)
Ketidakbahagiaan sering kali berasal dari ketidakmampuan untuk menerima takdir dengan lapang dada. Dalam Islam, tawakal dan bersyukur adalah cara untuk mencapai ketenangan hati dan kebahagiaan sejati.
Dalam Islam, kebahagiaan sejati tidak terletak pada kekayaan atau kesuksesan duniawi, tetapi pada kedamaian hati datang dari kekhusyukan dalam ibadah, syukur, dan kedekatan dengan Allah.
Tanda-tanda ketidakbahagiaan dalam hidup, seperti kecemasan berlebihan, ketidakpuasan, hati keras, atau ketidakmampuan untuk menerima takdir, adalah indikator bahwa seseorang mungkin perlu lebih fokus pada perbaikan hubungan dengan Allah dan peningkatan kualitas spiritual.
Dengan berusaha berserah diri kepada Allah, berfokus pada syukur, dan menerima takdir, seorang Muslim dapat menemukan kebahagiaan sejati dalam hidupnya.