Ada kecenderungan manusia untuk menghubungkan musibah dengan kesalahan. Padahal, kenyataannya lebih kompleks.
Seseorang yang rajin sedekah, sopan, dan dermawan tetap bisa mengalami kesulitan ekonomi. Seseorang yang baik pada semua orang tetap bisa menerima hinaan atau fitnah yang tidak masuk akal.
IFA.id mencatat setidaknya tiga alasan mengapa manusia sering salah menilai musibah:
1. Karena mudah melihat permukaan, tetapi sulit membaca hati.
Padahal Allah menilai dari kenginan dan ketakwaan, bukan penampilan luar.
2. Karena manusia terbiasa mengukur kebaikan dengan hasil dunia.
Padahal ujian justru memperkuat spiritualitas seseorang.
3. Karena ego ingin mencari alasan cepat, walaupun salah.
Menghakimi musibah orang lain membuat sebagian orang merasa lebih baik, padahal itu perilaku yang dilarang dalam Islam.
Selama manusia masih menilai dengan pengetahuan terbatas, kesimpulan yang muncul pun akan selalu kabur.
Baca Juga: Julid dan Dampaknya terhadap Amal
Bagaimana Cara Islam Mengajarkan Sikap Saat Musibah Terjadi?
Daripada sibuk bertanya apakah ini ujian atau azab, Islam mengajak manusia fokus pada sikap. Karena justru sikap itu yang menjadi penentu makna musibah.
1. Bersabar dengan tenang
Sabar bukan berarti diam tanpa usaha, tetapi menahan sikap tergesa, tidak menyalahkan keadaan, dan berusaha tetap bersandar kepada Allah.