“Alhamdulillahil ladzi ‘afani mimma btalaka bihi, wa fadhdhalani ‘ala katsirin mimman khalaqa tafdhila.”
Doa ini bukan untuk merendahkan korban, tetapi pengingat bahwa keselamatan adalah nikmat yang tidak boleh disombongkan. Doa juga menjadi bentuk empati spiritual yang sangat dianjurkan.
IFA.id menggarisbawahi bahwa doa bukan pengganti tindakan, tetapi pelengkap.
Baca Juga: Julid di Media Sosial Menurut Ulama
Sikap Ketujuh: Membantu Setelah Musibah Usai
Pertolongan tidak berhenti ketika musibah selesai. Dalam banyak kasus, korban musibah justru membutuhkan bantuan setelah kejadian: bantuan biaya, dukungan moral, atau bantuan mengurus administrasi.
Umar bin Khattab pernah berkata bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Prinsip ini sejalan dengan Islam yang mendorong agar bantuan dilakukan hingga tuntas.
IFA.id sering melihat bahwa keberlanjutan bantuan lebih penting daripada momen heroik sesaat.
Menolong Adalah Jalan Kebaikan
Musibah adalah bagian dari kehidupan. Tidak ada yang meminta, tidak ada yang siap, tetapi setiap manusia punya pilihan: menjadi penonton atau menjadi penolong.
Baca Juga: Penyakit Sosial yang Diabaikan Umat
Islam menempatkan membantu korban musibah sebagai tindakan mulia yang membawa keberkahan, baik bagi korban maupun penolong.
IFA.id menyimpulkan bahwa sikap terbaik saat menolong bukanlah sekadar reaksi spontan, tetapi perpaduan antara empati, etika, dan ilmu.
Dunia modern membutuhkan lebih banyak orang yang memahami cara menolong dengan benar: tenang, bijaksana, menjaga kehormatan, dan memberi dampak nyata.
Musibah bisa datang kepada siapa saja. Namun, kehadiran seseorang yang peduli adalah hadiah terbesar bagi korban. Dan di sisi Allah, setiap langkah kecil menuju kebaikan tidak akan pernah sia-sia.