Banyak orang tak menyadari bahwa sebelum memberikan pertolongan fisik, hal terpenting adalah menenangkan situasi.
Korban musibah sering berada dalam kondisi syok, bingung, atau ketakutan. Suara gaduh, teriakan, atau kerumunan yang hanya menonton dapat membuat keadaan semakin buruk.
Dalam sebuah hadis riwayat Muslim, Nabi Muhammad mengajarkan pentingnya membawa ketenangan dalam segala tindakan. Menurut para ulama, ini berlaku juga dalam situasi musibah: bantu korban merasa aman terlebih dahulu.
Baca Juga: Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah
IFA.id mendapati bahwa di lapangan, hal sekecil memperkenalkan diri, memberikan kalimat yang menenangkan seperti “Aman, bantu ya,” bisa sangat membantu korban merasa tak sendirian.
Sikap Kedua: Menolong Tanpa Merugikan
Salah satu kesalahan umum saat menolong adalah bertindak terburu-buru. Misalnya, mengangkat korban kecelakaan tanpa memastikan keadaannya.
Padahal dalam ilmu pertolongan pertama, memindahkan korban secara ceroboh bisa memperparah cedera, terutama pada bagian tulang belakang.
Islam mengajarkan prinsip la dharara wa la dhirâr, tidak boleh membuat mudarat dan tidak boleh memberi mudarat kepada orang lain. Artinya, niat menolong tidak boleh justru membahayakan.
Baca Juga: Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam
Cara paling tepat adalah:
• Lihat kondisi korban.
• Cari potensi bahaya seperti api, kendaraan lain, atau reruntuhan.
• Hubungi tenaga medis, polisi, atau pihak berwenang.
IFA.id menekankan bahwa menolong dalam Islam bukan sekadar menggerakkan tangan, tetapi memastikan tindakan itu benar.
Sikap Ketiga: Menjaga Kehormatan Korban
Salah satu bentuk musibah yang paling menyakitkan adalah ketika orang lain justru mengabadikan foto atau video, lalu menyebarkannya. Padahal dalam Islam, menjaga kehormatan seorang muslim adalah kewajiban besar.
Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah bersabda bahwa seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain: tidak boleh menzalimi, tidak boleh merendahkan.