Secara psikologis, ada beberapa sebab:
• Refleks pembelaan diri, merasa aman karena musibah menimpa orang lain.
• Kebiasaan komentar spontan, terutama di media sosial.
• Kurangnya pemahaman spiritual, sehingga musibah dianggap sebagai hukuman semata.
Padahal, Islam menempatkan musibah sebagai proses penuh hikmah. Menyaksikan orang lain diuji seharusnya membuat hati lebih lembut, bukan lebih keras.
Baca Juga: Julid di Media Sosial Menurut Ulama
Hikmah di Balik Larangan Ini
Larangan menghina musibah bukan beban, tetapi penjagaan. Ada empat hikmah yang dapat dirasakan:
1. Menguatkan rasa empati
Ketika melihat kesedihan orang lain, hati menjadi lembut. Kelembutan itu adalah pintu keberkahan.
2. Menjaga hubungan sosial
Masyarakat yang saling melindungi dalam musibah akan menjadi lebih kuat secara batin.
3. Menumbuhkan rasa syukur
Melihat musibah orang lain tanpa menghina membuat diri sadar bahwa setiap nikmat harus dijaga dengan syukur, bukan kesombongan.
4. Menghalangi sifat takabur
Takabur adalah penyakit hati yang sering datang tanpa disadari. Larangan ini menjadi pagar agar manusia tidak tergelincir.
Baca Juga: Penyakit Sosial yang Diabaikan Umat
Apa yang Harus Dilakukan Ketika Menyaksikan Musibah?