ibrah

Adab Walimatu Safar: Doa, Niat, dan Etika Sebelum Bepergian

Sabtu, 22 November 2025 | 13:19 WIB
Bersafar dengan adab: luruskan niat, panjatkan doa, dan jaga etika agar perjalanan diberkahi Allah. (Foto/Ilustrasi)

Baca Juga: Perjalanan haji sering digambarkan sebagai puncak ibadah, tetapi IFA.id melihatnya lebih jauh: haji adalah titik balik yang mengubah cara seseorang me

4. Menyertakan Ungkapan Maaf sebelum Meninggalkan Tempat

Sebelum berangkat, seseorang disunnahkan meminta maaf kepada keluarga, tetangga, dan orang terdekat. Dalam banyak hikmah safar, ulama menjelaskan bahwa meminta maaf menjadi cara membersihkan hati dari potensi keburukan yang terbawa dalam perjalanan.

IFA.id mencatat, di masyarakat Indonesia, kebiasaan meminta maaf ini sudah sangat mengakar. Walimatu safar menjadi momen yang tepat untuk melakukannya. Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa safar yang dimulai dengan hati bersih cenderung lebih tenang.

5. Membaca Doa Safar sesuai Sunnah

Doa safar yang diajarkan Nabi bukan sekadar bacaan wajib, melainkan bentuk pengakuan akan kebesaran Allah. Isi doa ini menegaskan bahwa manusia tidak memiliki daya apa pun kecuali dengan pertolongan-Nya. Membaca doa sebelum naik kendaraan adalah adab utama.

IFA.id menemukan bahwa banyak yang mengadakan walimatu safar, tetapi lupa membaca doa ini secara tepat. Padahal bacaan tersebut adalah inti penguatan spiritual sebelum perjalanan dimulai.

Baca Juga: Kesehatan Mental Santri & Muslim Muda: Tantangan Baru Zaman Ini

6. Tidak Mengundang Secara Berlebihan

Syariat mengajarkan keseimbangan. Mengundang terlalu banyak orang untuk walimatu safar bisa masuk kategori membebani. Ulama menegaskan bahwa undangan cukup untuk keluarga dekat, tetangga inti, atau sahabat yang memang ingin memberikan restu dan doa.

Apa pun yang berlebihan cenderung mendatangkan mudarat. Semakin sederhana walimatu safar, semakin terjaga nilai ketulusannya.

Mengembalikan Makna Walimatu Safar di Zaman Modern

Perubahan gaya hidup membuat banyak orang mulai menganggap walimatu safar sebagai acara yang tidak wajib atau bahkan tidak relevan. Padahal jika memahami esensinya, acara ini justru sangat manusiawi.

Ia mengajarkan bahwa keberangkatan memerlukan restu, dan doa dari orang terdekat memiliki nilai yang tidak bisa diganti dengan pesan singkat.

Baca Juga: Mengapa Haji Jadi Puncak Penyucian Diri?

Halaman:

Tags

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB