IFA.id– Ada satu momen yang sering membuat hati manusia terasa campur aduk. Ketika langkah harus pergi, jarak mendadak berubah menjadi sesuatu yang tidak main main. Di titik itu, walimatu safar hadir bukan sekadar acara kumpul keluarga, tetapi ruang kecil untuk menitipkan doa.
Banyak masyarakat menganggapnya tradisi, sebagian lagi menyebutnya budaya. Namun dalam Islam, adab dan niat dalam walimatu safar memegang peran yang jauh lebih dalam.
Di tengah aktivitas yang semakin bergerak cepat, IFA.id mencatat bahwa semakin banyak orang mencari pemahaman tentang tata cara walimatu safar yang benar.
Tidak sedikit yang bertanya, apakah acara semacam ini sekadar simbolik atau memang memiliki landasan syar’i yang tegas. Menariknya, tradisi ini terus hidup dari masa ke masa, tetap bertahan meski kebiasaan modern sering kali menggeser nilai nilai lama.
Baca Juga: Bolehkah Walimatu Safar? Pandangan Ulama Klasik dan Kontemporer
Pembahasan mengenai adab walimatu safar tidak bisa dilepaskan dari pesan Nabi Muhammad kepada para sahabatnya.
Safar bukan sekadar perjalanan fisik. Ada unsur spiritual di dalamnya, karena seseorang membawa niat, risiko, harapan, dan tentu saja doa dari orang yang ditinggalkan.
Walimatu Safar dan Akarnya dalam Syariat
Para ulama memandang walimatu safar bukan sebagai ibadah khusus yang memiliki aturan baku seperti salat atau zakat. IFA.id merangkum sejumlah pendapat dari kitab fikih bahwa acara ini lebih dekat dengan kategori ‘urf,
yaitu tradisi yang dibolehkan selama tidak bertentangan dengan syariat. Dalam beberapa riwayat, sahabat mendoakan satu sama lain sebelum bepergian, menunjukkan bahwa kerangka walimatu safar memang ada dalam teladan Nabi.
Baca Juga: Makna Walimatu Safar: Tradisi Perpisahan yang Sarat Doa
Doa doa yang diajarkan Rasulullah sangat sederhana tetapi terasa sangat kuat. Salah satunya adalah doa agar Allah menjadi pelindung selama safar, doa keselamatan, dan doa memohon keteguhan iman.
Isi doanya membuat walimatu safar lebih bermakna daripada sekadar acara melepas seseorang di ruang tamu.
Banyak ulama kontemporer menekankan bahwa inti walimatu safar tidak terletak pada wajib atau sunnahnya acara, tetapi pada nilai yang dibungkus di dalamnya. Selama tidak ada unsur pemborosan atau kemudaratan, tradisi ini justru dianjurkan sebagai bentuk saling menguatkan.