Ketiga, masyarakat modern semakin jarang berkumpul. Tradisi seperti walimatu safar secara sosial membantu memperkuat kebersamaan.
Baca Juga: Kesehatan Mental Santri & Muslim Muda: Tantangan Baru Zaman Ini
Namun, ulama kontemporer mengingatkan bahaya yang sama: jika walimatu safar dianggap kewajiban, atau seolah-olah tanpa syukuran perjalanan seseorang menjadi tidak selamat, maka itu melampaui batas syariat.
Antara Adat, Budaya, dan Syariat
IFA.id sering menemukan kebingungan masyarakat: “Kalau tidak dicontohkan Nabi, apakah otomatis bid’ah?”
Para ulama menjawab tidak sesederhana itu. Segala hal yang sifatnya sosial dan bukan ibadah murni, serta tidak bertentangan dengan syariat, termasuk dalam kategori adat yang diperbolehkan.
Misalnya, seseorang diberi makan oleh keluarganya sebelum berangkat. Apakah ini ibadah khusus? Tidak. Ini bagian dari budaya kehangatan keluarga. Dan budaya tidak otomatis bertentangan dengan agama.
Baca Juga: Ketika Cemas Datang, Begini Cara Islam Menenangkannya
Justru, selama budaya itu menguatkan nilai Islam, ia dianggap sebagai adat shalihah atau adat yang baik.
IFA.id melihat bahwa di banyak daerah, walimatu safar menjadi ruang untuk hal-hal positif:
Perbaikan hubungan keluarga.
Penguatan niat.
Doa keselamatan.
Saling memaafkan sebelum jauh dari rumah.
Semua ini merupakan nilai kebaikan yang diajarkan Islam.