ibrah

Bolehkah Walimatu Safar? Pandangan Ulama Klasik dan Kontemporer

Sabtu, 22 November 2025 | 11:25 WIB
Suasana hangat keluarga yang sedang berkumpul dan berdoa sebelum keberangkatan, menggambarkan tradisi walimatu safar yang hidup di tengah masyarakat. (Foto/Ilustrasi)

Mayoritas ulama sepakat bahwa walimatu safar tergolong tradisi mubah selama tidak diiringi keyakinan tertentu yang tidak diajarkan agama. Artinya, mempertemukan keluarga sebelum bepergian, saling memaafkan, dan berdoa bersama masuk kategori kebaikan yang dianjurkan.

Beberapa ulama bahkan melihat sisi sosial dan emosional yang penting: menguatkan ikatan keluarga dan memperbaiki hubungan sebelum terpisah oleh jarak. Manusiawi dan bernilai positif.

Namun para ulama memberikan batasan yang harus diperhatikan: walimatu safar tidak boleh diyakini sebagai ibadah tertentu yang memiliki ketentuan khusus dalam agama.

Tidak boleh dianggap wajib, tidak boleh dianggap sunnah khusus yang ditetapkan Nabi, dan tidak boleh meyakini bahwa meninggalkan acara tersebut membuat perjalanan tidak berkah.

Baca Juga: Rahasia Manfaat Haji Menurut Islam

IFA.id menemukan penjelasan ini sering menjadi garis pemisah antara adat baik dan ritual baru yang berpotensi menjadi bid’ah.

Pendapat Ulama Klasik

Dalam literatur ulama klasik, tidak ada dalil khusus dari Nabi Muhammad atau para sahabat yang mencontohkan walimatu safar sebagai ritual tertentu. Karena itu, para fuqaha mengategorikannya sebagai ‘urf atau adat baik selama tidak melanggar syariat.

Mereka menegaskan bahwa makan bersama, doa bersama, atau berkumpul sebelum bepergian masuk kategori jaiz atau boleh. Bahkan dianjurkan selama isinya adalah kebaikan, seperti nasihat, doa keselamatan, atau momen saling memaafkan.

Satu hal yang ditekankan: jangan sampai acara itu dianggap sebagai ibadah baru yang memiliki cara, waktu, dan format tertentu. Selama tidak ada anggapan seperti itu, hukumnya tetap mubah.

Baca Juga: Perjalanan haji sering digambarkan sebagai puncak ibadah, tetapi IFA.id melihatnya lebih jauh: haji adalah titik balik yang mengubah cara seseorang me

Pendapat Ulama Kontemporer

Para ulama kontemporer juga cenderung memberikan pandangan yang sejalan. IFA.id mencatat beberapa argumentasi mereka:

Pertama, kumpul keluarga sebelum bepergian adalah kebutuhan psikologis manusia. Perpisahan adalah momen emosional, dan menghadirkannya dalam suasana positif merupakan bagian dari menjaga hubungan sosial.

Kedua, doa bersama bukanlah ritual khusus, tetapi bagian dari sunnah umum: mendoakan kebaikan bagi sesama. Jika dilakukan tanpa pengkhususan yang dibuat-buat, maka hukumnya tetap diperbolehkan.

Halaman:

Tags

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB