Namun, perjalanan dalam Islam bukan sekadar aktivitas fisik. Ia erat dengan adab. Nabi Muhammad memberikan banyak tuntunan tentang safar: dari doa, etika, hingga cara berpamitan.
Tradisi walimatu safar kemudian menjelma menjadi cara masyarakat menjaga tuntunan itu tetap hidup, meskipun dalam bentuk yang berbeda-beda.
Walimatu Safar, Antara Adat dan Anjuran Doa
Secara syariat, tidak ada nash eksplisit yang memerintahkan walimatu safar sebagai ritual khusus. Namun bukan berarti ia tidak memiliki landasan.
Dalam hadis Nabi, terdapat anjuran untuk mengantar orang bepergian, mendoakannya, dan meminta doa dari orang yang akan safar. Ketiga poin ini menjadi ruh walimatu safar.
Beberapa ulama menjelaskan bahwa walimatu safar masuk kategori urf hasan, yaitu tradisi baik yang tidak bertentangan dengan agama. Selama tidak ada unsur kemungkaran atau keyakinan keliru di dalamnya, maka tradisi semacam ini dibolehkan.
IFA.id mencatat bahwa para ulama berbeda pendapat bukan pada substansi doanya, tetapi pada bentuk acara walimah yang kadang dibuat berlebihan.
Dalam konteks Indonesia, tradisi ini sering disesuaikan dengan kondisi sosial. Bagi sebagian orang, walimatu safar hanya berupa kumpulan keluarga dan tetangga dekat.
Baca Juga: Kesehatan Mental Santri & Muslim Muda: Tantangan Baru Zaman Ini
Bagi yang lain, acaranya lebih besar. Selama tujuannya tetap: mendoakan yang akan berangkat, maka ia sejalan dengan nilai syariat.
Doa, Simbol Utama Walimatu Safar
Tidak ada walimatu safar yang lengkap tanpa doa. Doa yang paling umum adalah doa safar yang diajarkan Nabi: permohonan agar perjalanan diberi kemudahan dan dijauhkan dari keburukan.
Di banyak daerah, pemimpin doa juga menyelipkan permohonan agar keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kelapangan rezeki.
Siapa yang tidak tergerak mendengar doa semacam itu? Ada rasa bahwa seseorang tidak benar-benar pergi sendirian. Ia membawa bekal spiritual dari orang-orang yang mencintainya.