Syukur tidak selalu berarti tersenyum dalam duka, tetapi menyadari bahwa bahkan duka pun adalah bentuk perhatian Allah. Seorang ulama berkata, “Jangan lihat seberapa besar ujianmu, tapi lihat seberapa besar Allah yang menolongmu.”
Ketika kita menggenggam prinsip ini, hidup menjadi lebih ringan. Ujian tak lagi dilihat sebagai beban, melainkan undangan untuk mendekat kepada-Nya.
Baca Juga: Syukur Tak Selalu Tentang Banyaknya Nikmat, Tapi Tentang Hati yang Menerima
Tanda Syukur dalam Kehidupan Sehari-hari
Bersyukur tidak selalu harus diucapkan. Ia bisa diwujudkan dalam tindakan:
-
Menjaga lisan dari keluhan. Karena setiap keluhan adalah tanda lupa terhadap nikmat yang masih ada.
-
Menggunakan nikmat di jalan yang benar. Misalnya, jika diberi rezeki, gunakan sebagian untuk sedekah.
-
Menerima takdir dengan lapang dada. Karena ridha terhadap ketetapan Allah adalah bentuk tertinggi dari syukur.
Dalam pandangan para sufi, syukur bukan sekadar rasa terima kasih, melainkan pengakuan bahwa semua yang dimiliki bukan berasal dari diri sendiri.
Saat seseorang berkata dalam hatinya, “Aku tidak pantas atas semua ini, tapi Allah masih memberiku,” maka ia telah mencapai puncak syukur yang hakiki.
Baca Juga: Ketika Hati Lelah, Syukur Menjadi Obatnya
Syukur Menghapus Gelisah
Ketika hati penuh syukur, pikiran menjadi lebih tenang. Kita tak lagi membandingkan hidup dengan orang lain, karena sadar setiap orang berjalan di jalur ujian yang berbeda.
Syukur mengajarkan kita untuk melihat ke bawah, bukan ke atas. Rasulullah SAW bersabda,
“Lihatlah orang yang berada di bawahmu, dan janganlah kamu melihat orang yang di atasmu; karena yang demikian itu lebih patut agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu.” (HR. Muslim)