Kamis, 4 Juni 2026

Syukur Tak Selalu Tentang Banyaknya Nikmat, Tapi Tentang Hati yang Menerima

- Sabtu, 8 November 2025 | 17:13 WIB
Syukur bukan soal seberapa banyak yang kita punya, tapi seberapa tulus hati kita menerima apa adanya. (Foto/Ilustrasi)
Syukur bukan soal seberapa banyak yang kita punya, tapi seberapa tulus hati kita menerima apa adanya. (Foto/Ilustrasi)

 

IFA.id - Dalam kehidupan modern yang serba cepat dan kompetitif, kita sering menilai kebahagiaan dari ukuran materi. Rumah yang megah, gawai terbaru, pakaian bermerek, dan popularitas menjadi simbol sukses.

Namun, di balik semua itu, ada hati-hati yang gelisah, merasa tak pernah cukup. Padahal, dalam pandangan Islam, syukur bukanlah tentang banyaknya nikmat yang dimiliki, melainkan tentang kemampuan hati untuk menerima dan menghargai setiap karunia dari Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda: Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu, dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atasmu. Karena hal itu lebih pantas agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR. Muslim)

Hadis ini menjadi pengingat lembut bahwa rasa cukup adalah bentuk kekayaan yang sejati. Syukur bukan sekadar ucapan “alhamdulillah”, tetapi keadaan hati yang tenang dalam segala situasi baik lapang maupun sempit.

Baca Juga: Ketika Ramadan Mengubah Hidup: Setiap Ramadan datang, ada sesuatu yang berubah dalam diri manusia. Tidak semua bisa dijelaskan dengan logika, tapi sel

Makna Syukur yang Sebenarnya

Bersyukur berarti mengakui bahwa semua yang kita miliki adalah pemberian Allah, bukan hasil kerja kita semata.

Tangan memang bekerja, tetapi hasilnya datang dari izin-Nya. Ketika hati memahami hal ini, maka lahirlah ketenangan. Tidak lagi iri terhadap rezeki orang lain, karena kita tahu: setiap takaran sudah diatur dengan penuh hikmah.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menulis bahwa syukur memiliki tiga unsur:

  1. Ilmu — menyadari bahwa segala nikmat datang dari Allah.

  2. Hal (keadaan hati) — merasa senang dengan pemberian itu.

  3. Amal — menggunakan nikmat untuk ketaatan kepada-Nya.

Dengan tiga unsur itu, syukur bukan lagi sekadar ekspresi lisan, tapi jalan hidup. Seorang yang bersyukur tidak hanya berkata, “Terima kasih, ya Allah,” tetapi juga menjadikan setiap nikmat sebagai sarana ibadah.

Baca Juga: Ramadan di Nusantara: Tradisi Berkah dari Sabang sampai Merauke

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB

Terpopuler

X