Wangi masakan memenuhi udara, para ibu sibuk membungkus nasi kotak, anak-anak menanti giliran membantu, dan para tetangga ikut hadir mengucap doa. Semua terlibat, semua tersenyum. Itulah wajah Islam yang penuh kebersamaan satu rasa syukur yang menular.
IFA.id menilai, dalam konteks sosial modern, tradisi ini juga berfungsi sebagai sarana mempererat hubungan antartetangga. Di era urbanisasi dan individualisme yang tinggi, aqiqah mengingatkan bahwa manusia tidak hidup sendiri.
Baca Juga: Hukum Aqiqah: Sunnah, Wajib, atau Sekadar Tradisi?
Ia mengundang pertemuan, memperhalus hati, dan menumbuhkan empati. Bahkan, bagi sebagian orang, momen aqiqah menjadi titik awal rekonsiliasi setelah lama tidak bertegur sapa.
Dari perspektif sosiologis, berbagi daging aqiqah menumbuhkan solidaritas sosial. Dalam setiap potongan daging yang dibagikan, terkandung pesan persaudaraan: bahwa kebahagiaan harus dirayakan bersama.
Dalam masyarakat yang sering kali terbelah oleh perbedaan kelas dan status, aqiqah menjadi “penyeimbang sosial” yang menumbuhkan rasa sama dan seimbang di hadapan Tuhan.
Makna Rasa Syukur di Balik Aqiqah
Rasa syukur dalam aqiqah bukan hanya ucapan “alhamdulillah”. Ia adalah tindakan nyata. Menyembelih hewan, memasak, membagikan makanan—semuanya merupakan bentuk manifestasi syukur yang berujung pada kebaikan bersama.
Baca Juga: Kapan Waktu Terbaik Melaksanakan Aqiqah Menurut Syariat?
IFA.id merangkum pandangan Imam Ibn Qayyim dalam Tuhfatul Maudud, bahwa aqiqah adalah bentuk syukur atas nikmat kelahiran sekaligus perlindungan bagi sang anak dari keburukan.
Menurut beliau, dengan aqiqah, seorang anak seakan “dibebaskan” dari keterikatan spiritual negatif sejak kelahirannya. Namun di luar itu, nilai sosialnya juga besar: keluarga diajak untuk tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga berbagi rezeki kepada sesama.
Menariknya, di banyak daerah di Indonesia, tradisi aqiqah sering disertai dengan doa bersama. Dalam acara itu, para tetangga diundang, anak-anak membaca doa, dan para sesepuh memberi nasihat.
Inilah contoh nyata bagaimana ibadah individual berubah menjadi momentum sosial. Dari rasa syukur lahirlah kebersamaan, dan dari kebersamaan tumbuhlah ukhuwah.
Baca Juga: Riba Gaya Baru: Ketika Dosa Lama Bersembunyi di Balik Dunia Digital
IFA.id: Aqiqah di Tengah Perubahan Zaman