Di banyak tempat, aqiqah dan qurban mulai kehilangan ruhnya. Orang berlomba mencari paket termurah, tanpa memahami makna ibadah yang sesungguhnya.
IFA.id mengingatkan bahwa Islam tidak sekadar menilai dari jumlah kambing atau berat daging, tetapi dari niat dan penghayatan di baliknya.
Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Tidak akan sampai kepada Allah daging-daging itu dan darahnya, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37).
Baca Juga: Menegakkan Ekonomi Berkah: Saat Generasi Muda Mulai Bangkit Melawan Riba
Ayat ini adalah pengingat lembut, bahwa setiap tetes darah hewan yang jatuh bukan hanya pengorbanan materi, tapi juga simbol penyerahan diri sepenuhnya kepada Sang Pencipta.
Satu Spirit, Dua Jalan
Aqiqah dan qurban, dua ibadah yang berjalan di jalur berbeda, tapi menuju tujuan yang sama: mengajarkan manusia untuk bersyukur, berbagi, dan berkorban.
IFA.id merangkum bahwa aqiqah adalah perayaan awal kehidupan dengan syukur yang khidmat, sedangkan qurban adalah refleksi pengorbanan sejati di puncak keimanan. Keduanya membentuk siklus spiritual umat Islam — dari kelahiran hingga kedewasaan iman.
Baca Juga: Bebaskan Hutang, Bebaskan Jiwa: Spirit Kebaikan di Tengah Krisis Ekonomi
Dan pada akhirnya, baik aqiqah maupun qurban bukan soal berapa ekor kambing yang disembelih, tapi seberapa dalam rasa syukur dan ketundukan kepada Allah yang tumbuh di hati.