IFA.id - Dunia memiliki cara yang aneh untuk menguji hati manusia. Ia kadang menampilkan keindahan lalu tiba-tiba menjauh, meninggalkan kita dalam ruang sepi yang dingin.
Dalam perjalanan hidup, kita akan menjumpai banyak orang beberapa datang membawa cahaya, beberapa hanya singgah sebentar untuk kemudian pergi tanpa pamit.
Saat itulah hati mulai terasa kosong. Namun, di antara sunyi dan kehilangan itu, ada satu hal yang tidak berubah: Allah tetap di sini.
Manusia sering kali menaruh harapan kepada sesama manusia. Kita berharap mereka memahami kita, menemani kita, dan tidak akan pernah meninggalkan.
Baca Juga: Air Mata yang Didengar Langit: Doa di Tengah Luka Dunia
Tapi harapan itu terlalu rapuh jika sandarannya bukan Allah. Sebab manusia, sebaik apa pun, tetaplah makhluk dengan keterbatasan.
Ada masa di mana mereka sibuk dengan dunianya sendiri, atau mungkin lelah memahami kita. Di titik itulah kecewa sering lahir bukan karena orang lain jahat, tetapi karena kita menggantungkan rasa aman pada yang fana.
Namun, justru dari rasa kecewa itulah Allah mengajari sesuatu yang lembut tapi dalam: bahwa ketenangan sejati tidak pernah datang dari manusia, melainkan dari Dia yang menciptakan hati.
Ketika semua pergi, sebenarnya Allah sedang menyingkirkan segala penghalang yang membuat kita lupa pada-Nya.
Baca Juga: Pelukan Tak Terlihat: Saat Dunia Menjauh, Allah Justru Mendekat
Ia tidak sedang menghukum, tapi sedang mengundang kita untuk pulang. Seolah Allah berbisik di antara tangis, “Aku di sini, hamba-Ku. Mengapa kau mencari pelukan selain dari-Ku?”
1. Dunia yang Pergi, Tapi Allah yang Menunggu
Ada masa ketika hidup terasa berat—pertemanan renggang, keluarga tidak memahami, pekerjaan penuh tekanan, dan hati tak tahu harus ke mana.