Berdoa ketika hujan mulai turun.
Doa yang diajarkan Nabi SAW:
اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا
“Allahumma sayyiban nafi‘an.”
Artinya: Ya Allah, jadikanlah hujan ini sebagai hujan yang membawa manfaat.
Tidak mencela hujan.
Beliau melarang umatnya mengeluh terhadap hujan karena itu berarti mengeluh kepada Allah yang menurunkannya.
IFA.id menilai, sunnah ini sederhana tapi dalam maknanya: melatih hati untuk tetap bersyukur bahkan pada hal yang tampak kecil.
Baca Juga: Hujan, Tanda Kasih Allah yang Sering Disalahpahami
3. Kegembiraan Rasulullah: Simbol Ketawakkalan
Kegembiraan Rasulullah SAW saat hujan turun menggambarkan ketenangan batin yang lahir dari tawakkal sejati. Hujan adalah tanda bahwa Allah masih menjaga siklus kehidupan.
Bagi Rasulullah, turunnya hujan bukan soal basah atau tidak, tapi soal keberlanjutan rahmat.
Pernah suatu kali, hujan turun deras setelah lama kemarau. Sahabat tampak gembira, dan Rasulullah pun berkata: “Kami disirami rahmat Allah, bukan sekadar air."
Kata rahmat di sini bukan metafora, tapi hakikat. Hujan menjadi simbol pengampunan dan kasih sayang.
Bahkan, beberapa ulama mengatakan hujan juga mengingatkan manusia akan turunnya wahyu, karena keduanya sama-sama “turun dari langit untuk menghidupkan yang mati” wahyu menghidupkan hati, hujan menghidupkan bumi.
Baca Juga: Islam, Adat, dan Batas Akidah: Jalan Tengah Umat Modern
4. Hujan dan Jiwa yang Tenang
Dalam kehidupan modern, banyak yang melihat hujan dengan perspektif negatif: macet, banjir, gangguan aktivitas. Padahal, Rasulullah mengajarkan sebaliknya: untuk menemukan ketenangan dalam setiap tetesnya.
Ketika hujan turun, beliau tidak tergesa. Beliau diam sejenak, merenungi ciptaan Allah. Ini adalah bentuk tazakkur(perenungan) yang menghidupkan hati.