-
Menjadi pendengar dan pembelajar.
Dalam setiap diskusi tentang peran perempuan, laki-laki perlu hadir bukan untuk mendebat, tetapi mendengar. Islam mendorong sikap syura—musyawarah yang menghormati setiap suara. -
Menghapus stereotip.
Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa kelembutan tidak mengurangi kejantanan, melainkan memperkuatnya. Laki-laki yang menghargai perempuan justru mencerminkan kekuatan moral yang sejati. -
Mengadvokasi keadilan sosial.
Baik dalam pekerjaan, lembaga pendidikan, maupun keluarga, laki-laki dapat menjadi pelindung nilai-nilai keadilan Islam dengan memastikan perempuan mendapat hak yang sama untuk berkembang. -
Memberikan teladan di rumah.
Kesetaraan dimulai dari relasi terkecil. Seorang ayah yang berbagi peran domestik dan menghormati istrinya sedang menanamkan kesadaran gender yang sehat kepada anak-anaknya.
IFA.id menilai, perubahan sosial paling efektif berawal dari perilaku kecil di lingkungan terdekat—bukan dari wacana besar di media sosial.
Baca Juga: Memahami Kesetaraan Gender dalam Islam: Antara Teks dan Konteks
Mengembalikan Spirit Islam yang Humanis
Kesetaraan gender dalam Islam bukan gerakan impor atau konsep barat; ia justru berakar dari nilai dasar Islam sendiri: keadilan (‘adl) dan kasih sayang (rahmah).
Laki-laki dan perempuan sama-sama pemegang amanah untuk menebarkan rahmat di bumi. Maka, ketika salah satu pihak tertindas, tanggung jawab moral untuk meluruskannya jatuh kepada keduanya.
Islam tidak memusuhi perbedaan peran, tapi menolak ketimpangan yang mengakibatkan ketidakadilan. Dalam kerangka ini, laki-laki bukan pesaing perempuan, melainkan mitra spiritual dalam membangun peradaban yang seimbang.
Menjadi Laki-Laki Qur’ani di Zaman Modern
Zaman sudah berubah. Namun, prinsip Islam tentang kesetaraan tetap relevan.
Menjadi laki-laki Qur’ani hari ini berarti berani berdiri di sisi keadilan, sekalipun itu berarti melawan arus budaya patriarki.
Baca Juga: Guru Sebagai Jalan Pahala: Mengajar dan Belajar dalam Timbangan Ibadah
Rasulullah ﷺ tidak pernah takut untuk berbeda dari kebiasaan jahiliyah yang menindas perempuan. Justru karena keberaniannya menegakkan keadilan itulah Islam disebut sebagai agama yang membebaskan.
IFA.id menegaskan: perjuangan kesetaraan gender bukan hanya milik perempuan yang bersuara, tetapi juga milik laki-laki yang memilih untuk mendengarkan, belajar, dan berbuat adil.
Karena hanya dengan berjalan beriringan, cita-cita Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin bisa benar-benar terwujud.
Baca Juga: Adab Sebelum Ilmu: Jalan Menuju Keberkahan Belajar yang Hakiki