IFA.id - Pernah mendengar anggapan bahwa Islam menempatkan perempuan di posisi kedua setelah laki-laki? Pandangan itu kerap muncul di media sosial, ruang debat, bahkan di mimbar-mimbar diskusi publik.
Namun, benarkah akar persoalannya terletak pada ajaran Islam — atau pada budaya patriarki yang menempel di dalam praktiknya?
IFA.id mencoba menelusuri kisah panjang ini: antara teks suci yang luhur, tafsir manusia yang beragam, dan realitas sosial yang seringkali tak seindah idealnya.
Islam dan Isu Patriarki: Sebuah Titik Awal
Ketika mendengar kata patriarki, banyak yang langsung membayangkan struktur sosial yang memberi keistimewaan pada laki-laki dan menempatkan perempuan di pinggiran. Namun, dalam konteks Islam, pembahasan ini tak sesederhana itu.
Baca Juga: Ketika Islam Membuka Ruang: Perempuan dan Kepemimpinan di Era Modern
Sebab, Islam lahir di tengah masyarakat Arab abad ke-7 yang sangat patriarkis di mana bayi perempuan dikubur hidup-hidup, dan hak waris perempuan nyaris tidak ada. Di tengah kultur seperti itulah Islam turun membawa revolusi sosial yang besar.
Islam, lewat Al-Qur’an dan teladan Nabi Muhammad SAW, mengangkat derajat perempuan: memberi hak waris, hak memilih pasangan, hak menuntut ilmu, hingga hak berbicara di ruang publik.
Fakta ini bukan interpretasi modern, melainkan bagian dari sejarah awal Islam yang diakui banyak sejarawan Muslim dan non-Muslim.
Namun, seiring berjalannya waktu, nilai-nilai tersebut seringkali terkubur kembali oleh budaya masyarakat yang lebih kuat dari pesan moral agamanya sendiri.
Baca Juga: Memahami Kesetaraan Gender dalam Islam: Antara Teks dan Konteks
Ketika Budaya Lebih Lantang dari Ajaran
Banyak ulama kontemporer menegaskan bahwa kesenjangan gender yang terjadi di sebagian masyarakat Muslim bukanlah akibat ajaran Islam, melainkan hasil dari pembacaan budaya terhadap teks agama.
Dr. Amina Wadud, seorang sarjana Muslim asal Amerika, dalam bukunya Qur’an and Woman menulis bahwa “teks tidak pernah berbicara sendirian; manusialah yang menafsirkannya.”