Kamis, 4 Juni 2026

Tantangan Budaya Patriarki dalam Islam: Membongkar Mitos dan Realitas

- Jumat, 31 Oktober 2025 | 12:50 WIB
Seorang muslimah berdiri tegas di tengah perdebatan, menggenggam kitab yang memancarkan cahaya hikmah. (Foto/Ilustrasi)
Seorang muslimah berdiri tegas di tengah perdebatan, menggenggam kitab yang memancarkan cahaya hikmah. (Foto/Ilustrasi)

 

IFA.id - Pernah mendengar anggapan bahwa Islam menempatkan perempuan di posisi kedua setelah laki-laki? Pandangan itu kerap muncul di media sosial, ruang debat, bahkan di mimbar-mimbar diskusi publik.

Namun, benarkah akar persoalannya terletak pada ajaran Islam — atau pada budaya patriarki yang menempel di dalam praktiknya?

IFA.id mencoba menelusuri kisah panjang ini: antara teks suci yang luhur, tafsir manusia yang beragam, dan realitas sosial yang seringkali tak seindah idealnya.

Islam dan Isu Patriarki: Sebuah Titik Awal

Ketika mendengar kata patriarki, banyak yang langsung membayangkan struktur sosial yang memberi keistimewaan pada laki-laki dan menempatkan perempuan di pinggiran. Namun, dalam konteks Islam, pembahasan ini tak sesederhana itu.

Baca Juga: Ketika Islam Membuka Ruang: Perempuan dan Kepemimpinan di Era Modern

Sebab, Islam lahir di tengah masyarakat Arab abad ke-7 yang sangat patriarkis di mana bayi perempuan dikubur hidup-hidup, dan hak waris perempuan nyaris tidak ada. Di tengah kultur seperti itulah Islam turun membawa revolusi sosial yang besar.

Islam, lewat Al-Qur’an dan teladan Nabi Muhammad SAW, mengangkat derajat perempuan: memberi hak waris, hak memilih pasangan, hak menuntut ilmu, hingga hak berbicara di ruang publik.

Fakta ini bukan interpretasi modern, melainkan bagian dari sejarah awal Islam yang diakui banyak sejarawan Muslim dan non-Muslim.

Namun, seiring berjalannya waktu, nilai-nilai tersebut seringkali terkubur kembali oleh budaya masyarakat yang lebih kuat dari pesan moral agamanya sendiri.

Baca Juga: Memahami Kesetaraan Gender dalam Islam: Antara Teks dan Konteks

Ketika Budaya Lebih Lantang dari Ajaran

Banyak ulama kontemporer menegaskan bahwa kesenjangan gender yang terjadi di sebagian masyarakat Muslim bukanlah akibat ajaran Islam, melainkan hasil dari pembacaan budaya terhadap teks agama.

Dr. Amina Wadud, seorang sarjana Muslim asal Amerika, dalam bukunya Qur’an and Woman menulis bahwa “teks tidak pernah berbicara sendirian; manusialah yang menafsirkannya.”

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB

Terpopuler

X