ibrah

Riba dan Krisis Keuangan: Bukti Nyata Kebijaksanaan Islam

Senin, 27 Oktober 2025 | 12:36 WIB
Ilustrasi seorang pria di depan grafik menurun dengan latar masjid simbol peringatan Islam terhadap bahaya riba dalam sistem ekonomi modern. (Foto/Ilustrasi)

Ayat ini menegaskan bahwa Islam membedakan antara perdagangan yang menghasilkan nilai tambah riil dan riba yang hanya memindahkan kekayaan tanpa produktivitas.

IFA.id mencatat, hikmah dari larangan riba terletak pada keadilan dan keseimbangan. Dalam riba, satu pihak diuntungkan secara pasti, sementara pihak lain menanggung risiko penuh.

Ini menciptakan hubungan timpang antara yang kaya dan miskin kesenjangan yang kini menjadi ciri khas ekonomi global modern.

Baca Juga: Kopi, Ketelitian, dan Ketenangan: Perjalanan Ammar FH Menuju Juara Utama Coffee Brewing Competition 2025

Riba, Krisis, dan Keadilan Sosial

Ekonomi berbasis riba selalu memicu siklus gelembung (bubble).
Ketika bunga tinggi, masyarakat terpaksa berutang untuk bertahan. Saat utang membengkak, daya beli menurun, dan konsumsi runtuh. Bank menagih, aset disita, dan krisis pun lahir dari rahim sistem yang rakus.

Bandingkan dengan sistem keuangan syariah.
Dalam Islam, keuntungan harus disertai risiko (risk-sharing), bukan risk-transfer seperti dalam bunga.

Prinsip ini menjaga agar semua pihak terlibat secara adil tidak ada yang diuntungkan tanpa usaha.

Konsep seperti mudharabah (bagi hasil) dan musyarakah (kerja sama modal) menjadi solusi nyata yang menjaga keseimbangan ekonomi. Ketika untung dibagi bersama, kepercayaan tumbuh. Ketika rugi ditanggung bersama, solidaritas sosial terbentuk.

Baca Juga: Pesantren Kilat Kreatif: Belajar Agama Lewat Drama, Film, dan Podcast

IFA.id mencatat, inilah esensi kebijaksanaan Islam: keuntungan tak boleh lahir dari penderitaan orang lain.

Pelajaran dari Krisis 2008 dan 2020

Krisis keuangan 2008 dan pandemi COVID-19 dua dekade kemudian menunjukkan satu pola yang sama: ketergantungan berlebihan pada sistem berbunga membuat ekonomi rapuh.

Ketika pandemi melanda, banyak individu dan perusahaan tak siap menanggung beban utang berbunga tetap, sementara pemasukan berhenti total. Bank tetap menagih bunga, bahkan saat roda ekonomi berhenti. Di sinilah nilai kemanusiaan sering kalah oleh angka.

Sementara itu, lembaga keuangan syariah terbukti lebih tangguh. Menurut laporan Islamic Financial Services Board (IFSB) tahun 2021, perbankan syariah relatif stabil selama pandemi karena tak bergantung pada instrumen bunga, melainkan pembiayaan berbasis aset nyata.

Halaman:

Tags

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB