Al-Qur’an menyebutkan dengan nada yang sangat keras: “Orang-orang yang makan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila.” (QS. Al-Baqarah: 275)
Makna ayat ini bukan sekadar simbolik. Banyak ulama menafsirkan, “gila” di sini menggambarkan ketidakseimbangan spiritual akibat kerakusan. Orang yang dikuasai sistem riba kehilangan arah, karena hidupnya dikendalikan oleh uang, bukan nilai.
Islam menekankan konsep barakah keberkahan yang tidak selalu berarti banyak secara angka, tetapi membawa ketenangan dan cukup dalam hati. Dalam ekonomi ribawi, uang bisa bertambah, tapi keberkahan berkurang. Sebaliknya, dalam ekonomi halal, rezeki bisa terasa cukup meski sederhana.
Baca Juga: Ikhlas dalam Kebaikan: Jalan Menuju Ketentraman Jiwa
IFA.id menemukan bahwa hikmah ini sejalan dengan teori moral economy modern, yang menilai kesejahteraan bukan dari angka, tapi dari keseimbangan antara kebutuhan material dan kebahagiaan batin.
Riba dan Dunia Modern: Relevansi yang Tak Pernah Usang
Beberapa kalangan berargumen bahwa riba adalah konsep kuno yang tidak relevan dengan dunia modern. Namun justru sebaliknya larangan ini semakin masuk akal di era kapitalisme ekstrem.
Ketika pinjaman konsumtif menjamur, kartu kredit berfungsi sebagai “perpanjangan tangan riba”, dan bunga menjadi sumber tekanan hidup, Islam menawarkan solusi: ekonomi berbasis keadilan dan tanggung jawab sosial.
Negara-negara seperti Malaysia, Uni Emirat Arab, hingga Inggris dan Jepang kini mengembangkan sistem keuangan syariah bukan semata karena alasan agama, tetapi karena terbukti lebih stabil dan beretika.
Baca Juga: Membangun Spirit Kolaboratif Lewat Pesantren Kilat Masa Kini
Lembaga riset internasional IMF bahkan mencatat, pada masa krisis global, bank syariah lebih tahan guncangandibanding bank konvensional. Alasannya sederhana: tak ada bunga, tak ada spekulasi berlebihan, dan semua risiko ditanggung bersama.
Pelajaran untuk Kita: Menata Hidup Bebas Riba
Riba bukan hanya dosa besar, tapi juga jebakan yang perlahan menggerogoti ketenangan hidup.
IFA.id menekankan, langkah pertama bukan sekadar berhenti berutang, tetapi mengubah cara pandang terhadap uang. Uang bukan penguasa, melainkan amanah. Kekayaan sejati bukan pada jumlah, tapi pada keberkahan.
Mulailah dengan hal kecil: