IFA.id - Pernah ada seorang pengusaha muda yang hidupnya tampak makmur. Mobil mewah, rumah megah, semua hasil pinjaman bank berbunga tinggi. Awalnya semua terasa ringan, sampai bunga mulai menumpuk.
Hidupnya perlahan berubah menjadi perlombaan menutup utang dengan utang baru. Akhirnya, bukan hanya hartanya yang lenyap kedamaian jiwanya ikut hilang.
Cerita semacam ini bukan satu dua kali terdengar. Dalam skala kecil maupun besar, riba sering meninggalkan jejak kehancuran yang sunyi tapi pasti.
Itulah mengapa Islam menegaskan, “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS. Al-Baqarah: 275). Tapi pernahkah terpikir, mengapa larangan ini begitu keras? Apakah hanya soal dosa, atau ada alasan ilmiah di baliknya?
Baca Juga: Beda Riba, Bunga, dan Investasi Halal: Panduan Bijak untuk Muslim Modern
IFA.id mencoba mengurai rahasia besar di balik larangan riba—antara logika ekonomi, kesehatan mental, dan spiritualitas manusia.
Riba: Lebih dari Sekadar “Bunga”
Dalam pandangan syariat, riba bukan hanya tambahan bunga pada pinjaman uang. Ia adalah praktik eksploitasi di mana satu pihak mengambil keuntungan dari kesulitan pihak lain tanpa risiko sepadan.
Rasulullah SAW bersabda, “Rasul melaknat pemakan riba, pemberi riba, penulisnya, dan dua saksinya.” (HR. Muslim)
Hadis ini menggambarkan betapa seriusnya masalah ini. Islam memandang keadilan ekonomi harus didasarkan pada kerja, usaha, dan risiko bersama bukan keuntungan sepihak dari penderitaan orang lain.
Secara ekonomi, sistem berbunga menciptakan ketimpangan struktural. Yang punya modal semakin kaya, sementara yang berutang terus tertekan. Akibatnya, jurang sosial melebar, dan roda ekonomi kehilangan keseimbangannya.
Dampak Ekonomi Riba yang Tak Terlihat