Namun, kiai-kiai pesantren menambahkan satu dimensi penting yang khas: adab.
Kiai Hasyim Asy’ari pernah berpesan, “Berjuanglah dengan ilmu dan adab. Karena tanpa adab, perjuangan berubah menjadi perusakan.”
Artinya, seorang santri boleh menyampaikan aspirasi, tapi tetap menjaga tutur, wajah, dan hati. Tidak ada kata kasar, tidak ada benci, tidak ada fitnah. Karena santri bukan pendemo biasa, melainkan pendakwah berjiwa tenang.
Baca Juga: Lantunan Shalawat dan Doa Bersatu: Merayakan Hari Santri dengan Kedamaian
Pesantren selalu dikenal sebagai tempat tumbuhnya kesabaran, ketenangan, dan kebijaksanaan. Ketika dunia luar ramai dengan konflik, santri justru diharapkan menjadi air di tengah api penyejuk yang menenangkan suasana.
Oleh sebab itu, santri yang turun ke jalan sebaiknya membawa simbol kedamaian: tasbih di tangan, doa di bibir, dan hikmah di dada. Mereka tidak menuntut dengan teriakan, tapi dengan keteladanan dan doa.
Kiai sepuh sering berpesan, “Kalau kamu ingin mengubah dunia, ubahlah dulu dirimu dengan zikir.”
Artinya, perubahan sosial tidak selalu harus lewat benturan fisik, tapi bisa lewat kekuatan batin. Di sinilah makna terdalam santri berdemo: menegakkan amar ma’ruf dengan doa, mendidik masyarakat dengan ketenangan, bukan kemarahan.
Baca Juga: Santri Milenial, Pejuang Digital: Merekam Spirit Hari Santri di Era Teknologi
Di era digital, banyak “demo” tidak lagi di jalanan, tapi di dunia maya. Santri digital kini bisa menyuarakan aspirasi melalui tulisan, video, atau konten dakwah yang santun.
Kekuatan pena dan lisan jauh lebih tajam daripada teriakan.
Kita bisa belajar dari Rasulullah ﷺ yang menghadapi kebatilan dengan kelembutan hati. Ketika beliau disakiti di Thaif, beliau tidak membalas dengan kemarahan, tapi berdoa: “Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena mereka tidak tahu.”
Begitulah seharusnya semangat santri menyuarakan keadilan tanpa kehilangan kasih sayang.
Pesantren selalu mengajarkan ta’dhim (hormat) kepada guru, orang tua, dan pemimpin. Namun, hormat tidak berarti diam terhadap kemungkaran. Santri tetap boleh bersuara, tapi dengan hikmah dan akhlaq.
Kiai Sahal Mahfudz pernah berkata: “Perjuangan itu harus penuh ilmu. Karena kalau tidak, hanya akan jadi teriak tanpa arah.”
Baca Juga: Berkain Putih dan Berjiwa Merdeka: Potret Santri Indonesia Menyambut Hari Santri 2025
Maka, santri sejati adalah mereka yang tetap bersuara tapi tak kehilangan adab. Mereka tahu kapan harus berteriak, dan kapan harus menundukkan kepala dalam doa.