IFA.id - Mungkin ada yang pernah mendengar keluhan santri baru: “Kenapa sih HP harus dititip? Padahal cuma mau hubungi orang tua.”
Larangan membawa ponsel di pesantren kerap dianggap aneh atau bahkan ekstrem. Tapi kalau ditelusuri lebih dalam, IFA.id menemukan bahwa aturan ini menyimpan nilai besar bukan sekadar melarang, tapi mendidik jiwa.
Di era digital, HP bukan sekadar alat komunikasi. Ia sudah menjadi dunia itu sendiri. Dari situ mengalir informasi, hiburan, sekaligus godaan. Bagi santri yang hidup dalam ritme ngaji dan ibadah, HP bisa jadi dua hal: manfaat atau malapetaka.
Pesantren sadar betul, sekali santri membuka pintu dunia maya tanpa kendali, fokusnya pada ilmu bisa hilang. Bukan karena teknologi itu buruk, tapi karena belum semua hati siap menggunakannya dengan bijak.
Baca Juga: 7 Larangan Unik di Pesantren yang Ternyata Punya Makna Spiritual Mendalam
Larangan HP menjadi cara pesantren menjaga kesucian ruang belajar dari kebisingan dunia luar. Sebagaimana guru menutup jendela agar murid fokus, pesantren menutup “layar” agar santri bisa mendengar lebih jelas suara hatinya.
Larangan membawa HP bukan soal kolot atau menolak kemajuan.
Kiai di berbagai pesantren menjelaskan bahwa teknologi boleh, asal tidak menguasai manusia.
Kiai KH. Ma’ruf Sahal, pengasuh salah satu pesantren di Pekalongan, pernah berkata:
“Teknologi adalah tamu. Tamu harus disambut sopan, tapi tidak boleh dibiarkan mengatur rumah.” Pesantren ingin santri belajar mengatur diri sebelum mengatur alat. Karena ilmu tidak akan berbuah bila pikiran selalu terganggu oleh notifikasi.
IFA.id menemukan kisah Hanan, santri asal Bandung yang awalnya kesal karena harus menyerahkan HP kepada pengurus. “Rasanya kayak diputusin dunia luar,” katanya sambil tertawa. Tapi setelah tiga bulan, Hanan merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Baca Juga: Rahasia Larangan di Pesantren: Bukan Sekadar Aturan, Tapi Jalan Menuju Adab
Ia mulai rutin membaca Al-Qur’an selepas Isya, berdiskusi dengan teman tanpa distraksi, dan menyadari betapa banyak waktu yang dulu terbuang hanya untuk scroll media sosial.
“Dulu HP membuatku sibuk, tapi bukan produktif. Sekarang aku merasa lebih dekat dengan diriku sendiri,” ujarnya lirih.
Tanpa HP, santri belajar cara klasik: menulis catatan tangan, berdiskusi langsung, mendengar dengan sungguh-sungguh. Dalam keheningan itu, kemampuan berpikir mereka justru tumbuh tajam.