Doa ini sering dibaca di pesantren setelah kajian malam, sebagai pengingat agar santri tidak terjerat dalam kenikmatan dunia yang menipu.
Ketika dunia sibuk memanjakan kecepatan dan kebebasan, pesantren justru mengajarkan jeda dan kedekatan batin. Di tempat lain, orang mungkin berlomba mencari sinyal, sementara di pesantren, santri berlomba mencari cahaya ilmu.
Larangan HP di pesantren, dalam pandangan IFA.id, adalah simbol perjuangan manusia melawan kecanduan dan kebisingan dunia. Ia bukan sekadar peraturan, tapi pelajaran: bahwa tidak semua yang menghubungkan secara digital bisa mendekatkan secara spiritual.
Baca Juga: Langkah Terakhir atau Awal Baru? Istikharah dalam Pandangan Islam yang Sesungguhnya
Pesantren adalah laboratorium kehidupan. Larangan HP hanyalah satu eksperimen kecil yang menguji kesabaran dan kesadaran. Tapi hasilnya nyata: Santri tumbuh lebih fokus, lebih sopan, dan lebih kuat menghadapi dunia luar.
Dan ketika mereka akhirnya memegang HP lagi setelah lulus, mereka tidak lagi diperbudak oleh notifikasi, tapi memanfaatkannya dengan niat dan adab.
Karena di pesantren, teknologi diajarkan bukan untuk dikuasai, tapi untuk dimaknai.
Baca Juga: Langkah Terakhir atau Awal Baru? Istikharah dalam Pandangan Islam yang Sesungguhnya
Artikel Terkait
Istikharah: Jalan Sunyi Menuju Keputusan yang Diberkahi
Menyerah dengan Indah: Belajar Reda Lewat Sholat Istikharah
Saat Hati Tak Bisa Memilih: Istikharah Sebagai Jalan Menemukan Ketenangan
Allah yang Menentukan, Bukan Perasaan: Meluruskan Makna Istikharah