IFA.id - Di tengah dunia yang semakin tak menentu, banyak orang kembali melirik harta yang disebut Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagai pegangan sejati: emas dan perak.
Bukan sekadar logam mulia, melainkan simbol kestabilan dan keadilan dalam ekonomi Islam. Dinar dan dirham bukan sekadar alat tukar, tetapi juga bagian dari pesan spiritual yang diwariskan Nabi untuk menjaga nilai kehidupan di akhir zaman.
IFA.id mencatat, ketidakpastian global, inflasi yang menekan, dan runtuhnya kepercayaan terhadap uang kertas membuat umat Islam menoleh kembali pada sistem keuangan yang berlandaskan logam mulia.
Dinar (emas) dan dirham (perak) bukanlah konsep baru; ia telah digunakan sejak masa Rasulullah, bahkan menjadi standar perdagangan di masa Khulafaur Rasyidin.
Baca Juga: Surga dan Neraka: Akhir dari Segala Perjalanan Manusia
Dalam hadis riwayat Ahmad, Rasulullah bersabda:
"Akan datang suatu masa kepada manusia, di mana tidak ada sesuatu yang bermanfaat bagi mereka selain dinar dan dirham." (HR. Ahmad)
Hadis ini bukan sekadar peringatan ekonomi, tetapi petunjuk strategis: bahwa di saat sistem finansial modern goyah, nilai hakiki tetap berlabuh pada emas dan perak.
Emas dan perak dalam Islam bukan hanya instrumen kekayaan. Keduanya adalah standar nilai universal yang menjaga keadilan. Ketika uang kertas diciptakan tanpa cadangan riil, nilainya menjadi rapuh, terombang-ambing oleh politik dan inflasi.
IFA.id melansir, sejarah mencatat saat dunia lepas dari sistem Bretton Woods pada 1971, nilai dolar Amerika tidak lagi ditopang oleh emas.
Baca Juga: Padang Mahsyar: Detik-Detik Semua Rahasia Terbuka
Sejak itu, inflasi menjadi hantu global. Sementara itu, dinar dan dirham tetap memiliki nilai intrinsik yang tidak bisa dipalsukan oleh kebijakan manusia.
Bayangkan: satu dinar yang beratnya sekitar 4,25 gram emas murni memiliki daya beli yang relatif sama selama ribuan tahun. Dari masa Rasulullah hingga kini, satu dinar bisa membeli seekor kambing sehat. Stabilitas itu bukan kebetulan, tetapi cerminan dari sistem ilahi yang adil.