IFA.id – Di antara deru kendaraan dan sorot lampu kota, seorang pemuda menepi dari trotoar membawa termos besar berisi nasi goreng. Malam itu, ia dan kawan-kawannya membagikan makanan kepada siapa pun yang mereka temui di jalanan.
Tak ada spanduk, tak ada acara. Hanya obrolan ringan dan senyum yang menggantikan lelah. Di dunia yang kadang terasa terlalu sibuk untuk peduli, aksi kecil ini menjadi cahaya — mengingatkan bahwa budaya tolong-menolong belum benar-benar hilang.
IFA.id mencatat, fenomena semacam ini mulai tumbuh di banyak kota besar Indonesia. Dari Jakarta hingga Makassar, gerakan solidaritas urban kembali hidup, membawa pesan sederhana: membantu itu menular.
Awalnya, gerakan ini muncul dari kelompok kecil. Salah satunya adalah Komunitas Nasi Jumat, dibentuk oleh lima pekerja muda di kawasan Sudirman, Jakarta. Setiap Jumat, mereka menyisihkan sebagian uang makan siang untuk membeli nasi bungkus dan membagikannya ke tunawisma.
“Waktu itu cuma iseng, tapi ternyata banyak yang mau ikut. Sekarang sudah ada 60 cabang di seluruh Indonesia,” ujar Fahri Setiawan, koordinator komunitas tersebut kepada IFA.id.
Apa yang dimulai dari satu obrolan sederhana di grup WhatsApp kini berubah menjadi gerakan nasional yang menyentuh ribuan orang setiap pekan.
Baca Juga: Kekuatan Tangan yang Terulur: Mengapa Membantu Sesama Tak Pernah Salah Wakt
Sosiolog perkotaan dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Retno Wahyuningtyas, menilai fenomena ini sebagai “gelombang sosial baru”.
“Orang kota memang hidup dalam ritme cepat, tapi di sisi lain mereka haus akan makna. Menolong menjadi jalan untuk menemukan kembali nilai kemanusiaan yang hilang di tengah persaingan,” ujarnya.
Menurut data survei Urban Social Index 2025, 64% warga kota besar di Indonesia mengaku merasa “kesepian secara sosial”, meski hidup di lingkungan padat.
“Gerakan tolong-menolong memberi ruang bagi manusia untuk saling melihat lagi — bukan hanya lewat layar, tapi lewat tindakan nyata,” tambah Retno.
Di era digital, pesan kebaikan menyebar lebih cepat dari sebelumnya.
Platform seperti Instagram, TikTok, dan X (Twitter) kini dipenuhi dengan konten sosial: dari video relawan berbagi makanan hingga ajakan donasi spontan untuk korban bencana.
Namun, seperti yang dicatat IFA.id, di balik viralitas itu muncul tantangan baru: menjaga ketulusan.
“Jangan sampai kebaikan jadi konten,” ujar Mita Zahra, aktivis muda pendiri gerakan Kebaikan Tanpa Kamera. Gerakan ini mengajak masyarakat untuk menolong tanpa mendokumentasikannya.
Baca Juga: Doa-Doa Mustajab Setelah Tahajud: Mengetuk Pintu Langit
“Kami ingin mengembalikan makna gotong royong. Bahwa yang penting bukan siapa yang terlihat, tapi siapa yang terbantu,” katanya.
Fenomena menarik lainnya adalah keterlibatan generasi muda dalam kegiatan sosial.
IFA.id mencatat peningkatan partisipasi relawan muda di bawah usia 30 tahun mencapai 45% dalam dua tahun terakhir.
Bagi mereka, menolong bukan sekadar kegiatan amal, melainkan gaya hidup.
“Kami tidak ingin hanya kerja, nongkrong, dan lupa sekitar,” ujar Rizal Aditya, anggota komunitas Urban Helper Bandung.
Mereka melakukan aksi sederhana: menambal jalan rusak, membersihkan taman kota, atau mengumpulkan pakaian bekas.