IFA.id mencatat, dalam Al-Qur’an Allah berfirman:
“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia (Allah).” (QS. Al-Isra: 67)
Ayat ini seakan nyata dalam pengalaman Pak Umar.
Baca Juga: Doa Setelah Sholat Lengkap: Arab, Latin, Terjemahan, Dalil, dan Keutamaannya
Kisah Pak Umar menjadi refleksi bahwa doa bukan sekadar bacaan, tapi energi spiritual yang nyata. Dalam kondisi genting, doa bisa menjadi jangkar yang menenangkan jiwa dan, tak jarang, membuka jalan keselamatan.
Nelayan Aceh memang terkenal religius. Sebelum berangkat melaut, mereka biasa membaca doa bersama di tepi pantai. Beberapa bahkan menyiapkan waktu khusus untuk salat sunah dan membaca doa keselamatan sebelum berlayar.
Tradisi ini diwariskan turun-temurun, sebagai keyakinan bahwa laut bukan sekadar sumber rezeki, tapi juga ujian iman.
Sejak kejadian itu, kisah Pak Umar menyebar ke berbagai kampung. Banyak yang menjadikannya inspirasi. Ia pun kerap diminta berceramah singkat selepas salat Jumat, mengingatkan jamaah tentang pentingnya dzikir dan doa dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Kisah Inspiratif: Anak Yatim Jadi Hafidz Qur’an Cilik
“Kalau nelayan bisa selamat dari badai dengan doa, kenapa kita tidak bisa menghadapi badai hidup dengan doa juga?” begitu ucapnya.
IFA.id merangkum, kisah Pak Umar bukan sekadar cerita dramatis, tapi bukti nyata bahwa doa adalah pelampung jiwa di lautan kehidupan. Saat badai datang, ketika semua usaha manusia tak lagi berdaya, doa menjadi jawaban terakhir yang justru paling kuat.