Kamis, 4 Juni 2026

Membangun Hubungan yang Diridhai Allah: Dari Persahabatan hingga Pernikahan

- Sabtu, 13 September 2025 | 12:35 WIB
menggambarkan perjalanan hubungan yang diridhai Allah, mulai dari persahabatan hingga pernikahan, dalam dua fase yang berbeda namun saling melengkapi. (Foto/Ilustrasi)
menggambarkan perjalanan hubungan yang diridhai Allah, mulai dari persahabatan hingga pernikahan, dalam dua fase yang berbeda namun saling melengkapi. (Foto/Ilustrasi)

 

IFA.id - Dalam kehidupan manusia, hubungan antar lawan jenis merupakan fitrah yang Allah ciptakan.

Setiap hati akan merasakan ketertarikan, namun Islam mengajarkan agar rasa itu dikelola dengan cara yang benar, sesuai syariat, sehingga tidak menjerumuskan kepada hal-hal yang dilarang.

Dari sekadar persahabatan hingga menuju pernikahan, Islam menuntun umatnya dengan panduan yang jelas agar cinta tidak sekadar nafsu, melainkan menjadi ibadah yang diridhai Allah.

Persahabatan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam memiliki batasan yang tegas. Tidak semua interaksi diharamkan, namun ada aturan yang harus dijaga: tidak khalwat (berdua-duaan), tidak bersentuhan, serta tidak menimbulkan fitnah.

Baca Juga: Alternatif Islami Selain Pacaran: Ta’aruf dan Istikharah dalam Mencari Jodoh

Persahabatan yang sehat dalam Islam adalah yang berlandaskan niat baik, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan menjaga adab pergaulan. Dengan begitu, hubungan yang dijalin tidak menjadi pintu dosa, melainkan jalan menuju kebaikan.

Islam sangat memahami fitrah manusia yang membutuhkan pasangan hidup. Namun, Islam menolak konsep pacaran yang umumnya dipenuhi dengan perilaku mendekati zina.

Pacaran seringkali melibatkan kontak fisik, perasaan yang belum halal, hingga membuang waktu dalam janji tanpa kepastian. Karena itu, Islam menawarkan jalan yang lebih mulia: ta’aruf dan khitbah, yang mengedepankan kejujuran, keterbukaan, serta menjaga kehormatan kedua belah pihak.

Ta’aruf dalam Islam adalah proses perkenalan yang dilakukan secara terhormat, bukan dengan jalan sembunyi-sembunyi atau sekadar memenuhi hawa nafsu.

Baca Juga: Dampak Negatif Pacaran Menurut Islam: Dari Hati, Akhlak, hingga Iman

Dalam ta’aruf, keluarga dan pihak ketiga yang dipercaya biasanya dilibatkan, sehingga interaksi tetap terjaga dalam koridor syariat.

Dengan cara ini, seorang muslim dan muslimah bisa saling mengenal karakter, visi hidup, dan komitmen agama, sebelum akhirnya melangkah ke jenjang pernikahan.

Ketika perasaan cinta hadir, Islam tidak mengekang, tetapi mengarahkannya agar ditempatkan di jalan yang benar.

Cinta yang sejati dalam Islam bukan sekadar soal rasa, tetapi tanggung jawab untuk membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB

Terpopuler

X