IFA.id mencatat, banyak orang sering merasa sulit fokus saat shalat, apalagi ketika pikiran penuh dengan pekerjaan, deadline, atau aktivitas sehari-hari. Namun, Islam memberikan panduan sederhana agar hati tetap tenang dan ibadah terasa lebih bermakna.
Salah satu rahasia shalat khusyuk adalah menyiapkan hati sebelum takbiratul ihram. Alih-alih langsung shalat dengan terburu-buru.
cobalah ambil jeda sejenak, tarik napas dalam, dan hadirkan kesadaran bahwa sedang berdiri di hadapan Allah. Kesadaran awal ini sering kali menentukan kualitas shalat.
Tips lain yang sering dilupakan adalah membaca doa iftitah dengan penuh penghayatan. Kalimat doa pembuka mengingatkan bahwa shalat bukan sekadar gerakan fisik, tapi dialog spiritual. Membacanya dengan perlahan membuat hati lebih terhubung dengan makna ibadah.
Baca Juga: Makna Hijrah di Era Digital
IFA.id melansir dari berbagai kajian, memperbaiki bacaan Al-Fatihah juga menjadi kunci khusyuk. Surah ini adalah inti shalat, bahkan disebut sebagai Ummul Kitab. Melafalkannya dengan perlahan, meresapi arti setiap ayat, akan membuat pikiran lebih fokus pada Allah, bukan pada dunia luar.
Di tengah kesibukan kerja, gadget sering jadi pengganggu. Karena itu, sebelum shalat sebaiknya letakkan ponsel jauh dari jangkauan.
Gangguan notifikasi bisa merusak konsentrasi dan membuat shalat terasa sekadar rutinitas. Rasulullah SAW pun mengajarkan untuk menjauhkan hal-hal yang dapat melalaikan ibadah.
Khusyuk juga bisa dilatih lewat shalat sunnah. Semakin sering seseorang melatih fokus dalam shalat tambahan, semakin mudah merasakan kehadiran Allah ketika shalat wajib. Ini seperti latihan kecil sebelum menghadapi momen utama.
Pada akhirnya, shalat khusyuk di tengah kesibukan bukan perkara mustahil. Butuh latihan, kesadaran, dan tekad untuk memprioritaskan ibadah di atas dunia.
Baca Juga: KH. Hasyim Muzadi: Ulama yang Lantang Lawan Korupsi
IFA.id merangkum, rahasianya sederhana: hadirkan hati, perlambat langkah, dan biarkan shalat menjadi jeda suci di tengah hiruk-pikuk kehidupan.
Baca Juga: Kolaborasi KPK dan Ulama: Strategi Membangun Budaya Antikorupsi