IFA.id -- Emosi adalah bagian dari fitrah manusia. Setiap orang pasti pernah merasa marah, kecewa, atau sedih.
Namun, Islam mengajarkan kita untuk tidak menjadi hamba dari emosi yang meledak-ledak. Mengendalikan emosi bukan berarti menekan perasaan sepenuhnya, tetapi bagaimana seseorang bisa tetap tenang dan bijak dalam meresponsnya.
Baca Juga: Keutamaan Ilmu dalam Islam dan Cara Menjadi Muslim yang Cerdas di Tengah Arus Kehidupan Modern
Mengendalikan Amarah sebagai Tanda Kekuatan
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: “Bukanlah orang yang kuat itu yang menang dalam bergulat, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya saat marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari sini kita belajar bahwa kekuatan sejati dalam Islam bukan terletak pada fisik, tapi pada kemampuan mengontrol hawa nafsu dan emosi.
Seseorang yang mampu menahan amarah ketika sedang mampu membalas, justru mendapat kedudukan mulia di sisi Allah. Ini adalah latihan jiwa dan kesabaran yang menjadi cerminan ketakwaan seseorang.
Berwudhu Saat Marah, Diam Saat Emosi Memuncak
Salah satu cara praktis yang diajarkan Rasulullah SAW ketika emosi memuncak adalah berwudhu. Marah berasal dari api, dan api padam dengan air.
Berwudhu menjadi sarana menenangkan hati dan menghilangkan hawa panas dalam diri. Jika sedang berdiri, dianjurkan duduk. Jika masih marah, dianjurkan untuk berbaring.
Selain itu, diam saat marah sangat dianjurkan. Diam mencegah lisan dari berkata kasar, fitnah, atau ungkapan yang bisa merusak hubungan dan menyakiti orang lain. Islam menjaga lisan sebagai salah satu kunci keselamatan.
Baca Juga: Indonesia-Tiongkok Perkuat Kolaborasi SDM Industri Lewat Kelas Mandarin di Politeknik ATK Yogyakarta
Mengembalikan Semua kepada Allah
Ketika emosi melanda, penting untuk kembali menyadari bahwa semua yang terjadi atas izin Allah.
Dengan keyakinan bahwa setiap ujian adalah bentuk kasih sayang dan pembelajaran dari-Nya, maka hati pun akan lebih tenang.